Sebelum memulai semuanya, kami berlima diwajibkan untuk ritual berpuasa ghaib dan bersemadi selama 41 hari 41 malam (puasa tanpa makan dan minum, dan puasa menekan hawa nafsu diri sendiri), puasa ini wajib didampingi oleh seorang guru spiritual yang ahli dalam bidangnya, tidak boleh dibimbing oleh sembarangan orang. Sang guru pun harus merupakan salah satu kerabat dekat dari si pelaku puasa, misalnya paman atau bibi atau kakaknya. Karena dengan adanya ikatan tali keluarga, dipastikan tingkat keberhasilannya menjadi lebih besar.
Tempat yang dipilih untuk kami berlima melakukan ritual berpuasa ghaib dan bersemadi adalah suatu goa kuno keramat yang terletak dibawah kawah gunung. Tidak mudah menemukan lokasinya, jika bukan oleh orang orang yang memiliki kemampuan khusus yang bisa menemukannya. Seakan pintu masuk dari goa kuno itu tertutup akan sesuatu tak kasat mata, padahal kalau oleh mata orang tertentu yang bisa melihatnya, ada penampakan dua raksasa membawa palu besi berwarna emas ketat sedang berjaga jaga buas di depan mulut goa kuno itu.
Pertama kali menginjakkan kaki kami ke dalam goa kuno keramat itu, yang terlintas dikepala kami berlima adalah goa kuno keramat, yang sudah entah berapa ratus jiwa yang sudah mereka bantu untuk akhirnya mencapai kesempurnaan, dan keberhasilannya permintaan khususnya. SUNGGUH LUAR BIASA! gumam kami berlima.
Karena tujuan dalam berpuasa ghaib ini adalah untuk menguatkan sukma masing masing jiwa dari kami berlima, dan mengabulkan keinginan khusus tertentu. Selain harus berpuasa ghaib, kami juga diwajibkan untuk melakukan semadi setiap hari, tanpa pengecualian. Pagi berganti siang, siang berganti malam, malam berganti pagi kembali, rutinitas berpuasa dan bersemadi kami lakukan dengan pantang menyerah setiap hari. Ini semua demi kelangsungan hidup kami semua dan keluarga kami, akibat serangan brutal dari wabah COVID 19 atau yang lebih dikenal dengan wabah Corona.
Awalnya memang berasa sangat berat dan kami berlima hampir merajuk tidak sanggup, baru memasuki seminggu pertama saja, sudah mulai tampak kelelahan dari wajah wajah kami berlima. Kami mulai tampak bersungut sungut tidak sabar satu sama lain. Namun guru spiritual kami selalu mengingatkan kembali arah tujuan kami berlima datang kesini adalah untuk melakukan ritual puasa ghaib dan bersemadi bersama sama, agar pesugihan sate gagak kami berhasil dikemudian hari. Tanpa ada gangguan dari pihak pihak lain, yang tidak boleh disebutkan sosoknya.
Lambat laun seiring berjalannya waktu hari demi hari kami lalui, sampailah pada tiga minggu terakhir, ritual berpuasa ghaib dan bersemadi mulai memasuki tahap akhir dalam rangkaian proses ritual ini, guru spiritual kami mulai mengelilingi kami berlima dan melemparkan kami berlima dengan partikel partikel hitam dari kantong hitam yang selalu dia bawa bawa kemana pun dia bepergian. Kami berlima menamakannya kantong ajaib.