Hari sudah mulai tampak semakin gelap gulita, ketika kami berlima menyusuri sungai sungai sekitar dalam perjalanan kembali pulang ke rumah kami masing masing. Bulan purnama bersinar dengan terangnya, seakan membantu menyinari dan menuntun langkah langkah kami berlima. Aku, Pak Toni, Pak Xander, Pak Endik, Bu Siti mulai keliatan lelah, namun kami berlima bersepakat untuk segera memulai kelanjutan dari ritual misi pesugihan sate gagak kami.
Dalam perjalanan kami berlima membahas satu persatu ide ide dan konsep untuk ritual misi pesugihan sate gagak ini. Pertama kami harus mencari tahu dimanakah pedagang burung gagak hidup di daerah kami atau daerah daerah desa atau kota lainnya. Mengingat tidak mungkinnya daging gagak bisa dikonsumsi oleh manusia, karena dianggap tidak layak konsumsi dan bukan daging untuk konsumsi.
Pertama, karena daging burung gagak merupakan syarat utama untuk melakukan ritual misi pesugihan sate gagak. Tanpa adanya daging burung gagak, sudah dapat dipastikan misi ini tidak bisa berjalan dengan sempurna.
Kedua, kami harus menentukan lokasi untuk berjualan sate gagak ini. Lokasi yang dianggap pantas dan layak untuk kami berjualan setiap hari selama 3 jam tanpa adanya gangguan dari pihak lain. Takutnya kami salah menentukan lokasi, yang ada malah ketemu manusia manusia yang iseng, nanti dikira mereka kami tidak waras kan repot juga atau salah salah kami malah dilaporkan ke polisi karena dianggap menakuti masyarakat setempat karena berjualan sate yang tidak lazim adanya.
Akhirnya setibanya di rumah kami masing masing, kami memutuskan untuk beristirahat dan melakukan janjian pertemuan kembali keesokan harinya, untuk membahas dua topik utama yang harus segera kami selesaikan. Kami pun pamit untuk beristirahat sepanjang malam ini.
Ponsel Bu Siti berdering cukup kencang, terdengar nada suara berat namun elegan di ujung sana. Ya suara Pak Xander yang seakan tak sabar untuk segera bertemu dengan kami berlima. Menurut hasil investigasi dari orang suruhannya Pak Xander, dia berhasil menemukan dua calon pedagang burung gagak hidup itu. Yang pertama ada di daerah terpencil di kaki pegunungan di Bali, dan ini tidak semua orang mengetahuinya, karena tabu untuk dibicarakan jika seseorang berdagang burung gagak hidup disana. Jadi narasumber tidak ingin diberitahukan namanya.