Malam semakin larut, bahkan mulai nampak menyelimuti dengan kabut tebal ke semua arah secara perlahan lahan. Pelan namun pasti, aura aura kegelapan semakin nampak tak bersahabat datang menghantui disekitarku. Asap dupa dan rokok yang sejak awal aku nyalakan, membuat hidungku semakin sensitif mencium baunya yang membuatku tak nyaman ini sepanjang malam ini.
Semua syarat sudah berhasil kami penuhi, jadi tidak ada salahnya kami berlima menjadi antusias dalam ritual misi pesugihan sate gagak ini. Hari ini adalah hari pertama kami berlima memulai ritual misi pesugihan sate gagak idaman kami. Ritual pun dimulai!
Meja buat berdagang sudah aku gelar sedari tadi sejak dupa dan rokok aku nyalakan. Diatas meja sudah tertata rapih tusukan tusukan daging burung gagak yang sudah kami olah, beserta dengan panci panci yang berisikan kuah kuah andalan dari Bu Siti. Wangi dari panci panci berisi kuah kuahan itu menguar manis dan gurih menjadi satu ke udara malam yang pekat ini. Sungguh memikat hasrat dan naluri untuk menyantapnya.Tak ada yang meragukan resep resep turunan dari keluarga Bu Siti, sudah dapat dipastikan SEMPURNA rasanya!
Masing masing dari kami sudah tampak siap berjaga jaga di pos penjagaan kami yang telah kami tetapkan. Pak Xander dengan baju abu abu hitamnya tampak waspada dari balik pohon beringin tua itu. Dari wajahnya keliatan dia sangat kwatir dan penuh dengan pikiran.
Pak Toni dengan baju hitam hitamnya dipadukan dengan jaket birunya juga tampak waspada di balik batu nisan besar yang keliatan bagai rumah besar dibelakang tempatku berdagang sate gagak ini. Tak ketinggalan Pak Endik, dia juga siap berjaga jaga dengan baju merah marunnya dengan topi hitam sedang duduk di batu kolam kecil di dekat batu nisan tua bersebelahan dengan pohon beringin tempat Pak Xander berjaga jaga.