Malam ini bulan purnama bersinar dengan terangnya, sinarnya tampak menyoroti bergantian beberapa pemakaman tua di sekitar tempatku berdagang sate gagak. Tepat hari ini hari kedua kami berlima memulai kembali ritual misi pesugihan sate gagak. Dengan bermodalkan keyakinan yang sangat kuat, kami berlima yakin hari ini kami pasti dapat menemukan pembeli pembeli untuk sate gagak kami ini.
Seperti biasa meja dagangan aku tata rapih dengan tumpukan tusuk tusuk sate gagak yang telah disusun bertingkat di samping kiri meja daganganku, dan panci panci besar yang berisi kuah kuahan istimewa berada di samping kanan meja daganganku. Sengaja panci panci besar yang berisi kuah kuahan istimewa ini aku buka semua, dengan harapan wanginya yang keluar masuk di udara mampu mengundang hasrat dan selera makhluk makhluk siapa saja yang menciumnya. Hari ini aku hanya membawa tusuk sate gagak 500 tusuk saja, dikarenakan suplai daging burung gagak yang diperoleh hari ini sedang mengalami kendala logistik. Tak apalah, yang penting dagangan hari ini berjalan lancar dan laku pokoknya!
Arang arang di tempat panggangan sateku sudah mulai riuh membara, tandanya tusuk tusuk sate gagak pun siap untuk di bakar. Dengan segera aku mengambil sekitar 100 tusuk sate gagak untuk membakarnya. Sebagai layaknya seorang pedagang sate pada umumnya, aku dengan sabar membakar sate sate gagakku, mengolesinya dengan bumbu bumbu racikan special dari Bu Siti, dan membolak baliknya agar semua matang merata dengan sempurna. Dari kejauhan saja wanginya sudah tercium dengan membabi buta, kepulan asap asap yang menggoda selera pasti sanggup untuk menarik makhluk makhluk ghaib.
Tak berapa lama Pak Endik tampak memberi aba aba kepadaku, Yopi cepat tengok ke arah nisan di sana, ada sesuatu yang datang. Aku pun langsung waspada, mencoba melihat apa yang dikatakan oleh Pak Endik temanku itu, dan benar saja dari kejauhan tampak asap asap menggulung gulung dan terlihat sekelebat kerudung merah yang seperti berlarian tertitup oleh angin, lama semakin lama datang mendekat ke arahku entah siapakah gerangan yang akan datang ke tempatku berdagang sate gagak ini. Hatiku mencoba untuk bersikap tenang namun aku begitu gugup, karena ini adalah pengalaman pertamaku berhadapan dengan makhluk makhluk ghaib secara langsung.
Kak Kurnia mencoba menyenangkan aku, dia berkata, Pak Yopi harus tetap bertahan dan jangan takut, karena ini adalah kemauan kalian untuk ritual misi pesugihan sate gagak sendiri. Tenang, ada aku dan Teh Pitri yang akan selalu berjaga jaga dibelakangku.