Pesugihan sate Gagak Mang Yopi

Shinbul
Chapter #21

Pelanggan Kedua - Gerombolan tuyul hitam

Hari ini adalah hari ketiga kami berlima berdagang sate gagak. Seperti biasa kami sudah mempersiapkan semuanya dengan amunisi penuh, karena mengingat kemarin hasil dagangan kami terjual habis tak bersisa. Hari ini kami membawa lebih sate sate gagak kami sekitar 700 tusuk. Dan kuah kuahan yang istimewa sebagai pendamping hidangan utamanya, yaitu sate gagak.

Kak Kurnia dan Teh Pitri selalu setia mengawal dan menjaga kami semua, tanpa ragu mata awas mereka selalu mengawasi kami berlima dari kejauhan dan dalam sikap siaga. Karena itulah tanggung jawab yang harus mereka amalkan dalam bertugas sepanjang malam selama 3 jam ke depan. Seperti biasa kami berlima hanya berdagang dari jam 12.00 tengah malam hingga jam 03.00 dini hari, tidak boleh lebih atau pun kurang waktunya. Semua harus pas selama 3 jam. Aku pun selalu memasang alarm selama berdagang sate gagak, jadi aku selalu memantau pergerakan waktu daganganku sendiri.

Aba aba hari ini berasal dari Pak Toni, dia mulai melambaikan tangannya kepadaku. Dia memberi isyarat agar aku segera bersiap siap, akan ada makhluk makhluk ghaib yang datang mendekat tak berapa lama lagi.

Dan benar saja entah dari mana datangnya tiba tiba muncul 7 anak kecil berpenampilan botak plontos, hanya memakai celana dalam dekil kedodoran mulai berlarian di sekelilingku. Mata mereka tampak membulat hitam, wajahnya pucat layaknya marmer dingin, dengan gigi giginya yang bertaring tajam, dengan badan layaknya seperti anak anak kecil pada umumnya. Hanya saja bedanya anak anak ini berbadan hitam hitam, tidak seperti berita tuyul tuyul kebanyakan yang sering beredar di masyarakat. Masing masing dari mereka membawa buntelan hitam, yang disandingkan di badan mereka. Dalam hatiku berkata, sepertinya itu isi buntelannya adalah hasil kerja keras mereka semalaman ini untuk disetorkan kepada majikannya.

Lihat selengkapnya