Jujur saja sejak kejadian beberapa hari terakhir kemarin, aku dan teman temanku masih enggan untuk melanjutkan ritual misi pesugihan sate gagak kami, dikarenakan kami masih merasakan aroma ketakutan yang parah setelah diteror oleh sosok Ibu Kunti dan anak anaknya itu. Sosok mereka yang selalu mengikuti kami berlima kemana pun kami berada, baik pagi, siang, dan malam pun, mereka menebar teror berantai diantara kami. Dari mulai masing masing dari mereka yang mengikuti kami berlima, ada yang meneror dengan tertawanya yang menyeramkan, ada yang selalu menampakkan wujudnya yang menakutkan yang membuat aku dan teman temanku ketakutan setengah mati.
Sampai sampai kami berlima tidak berani untuk pulang kerumah kami masing masing, dikarenakan takut makhluk makhluk ghaib itu akan meneror kami dan sekeluarga. Jadi kami berlima memutuskan untuk tinggal di rumah Kak Kurnia dan kakak laki lakinya Kak Damar, biasa kami memanggilnya. Hanya dirumah mereka kami berlima merasa aman dan terlindungi. Tidak ada makhluk makhluk ghaib yang bisa mendekati area rumah Kak Kurnia dan Kak Damar ini, karena telah dibentengi dan disegel oleh mantera mantera pelindung dari leluhur mereka, jangankan makhluk makhluk ghaib, serangan serangan mistis pun sudah pasti terpental langsung kembali ke pemiliknya. Dalam rumah mereka kami meminta saran dan nasehat atas kejadian menakutkan yang sedang kami berlima alami. Kami sebenarnya masih ingin melanjutkan ritual misi pesugihan sate gagak ini, karena uang yang kami kumpulkan belum mencapai hasil seperti yang kami inginkan.
Menurut penerawangan batin Kak Damar, sosok makhluk ghaib Ibu Kunti dan anak anaknya itu sebenarnya terikat dengan dendam darah yang amat sangat kuat oleh kehidupan masa lampau mereka. Pada jaman dahulu kala, sosok Ibu Kunti ini adalah seorang wanita desa biasa yang sangat setia kepada keluarganya, dia melewati hari harinya sebagai ibu rumah tangga seperti pada umumnya, dia mengurus rumah dan anak anaknya yang berjumlah tujuh orang yang sangat dia cintai (yang sekarang kalian sudah paham mengapa dia selalu keliatan bersama dengan sosok tujuh makhluk ghaib kecil).
Kejadiannya sudah sangat lama, bahkan mungkin terjadi di jaman kakek nenek moyang kalian, kejadian berdarah yang sangat memilukan. Cukup tragis memang kematian sosok Ibu Kunti dan anak anaknya ini. Akibat ulah keluarga mereka sendiri, mereka saling berebutan harta kepemilikan atas sebuah rumah besar peninggalan ayahnya. Rumah yang memang sudah sejak awal diwariskan kepada sosok Ibu Kunti ini dan anak anaknya, karena Ibu Kunti adalah satu satunya anak perempuan di keluarga mereka. Ayah mereka sudah lama tiada, dikarenakan mendapat sakit yang tidak wajar (ini juga akibat ulah dari saudara saudara laki laki dari Ibu Kunti ini sendiri). Mereka sangat menginginkan rumah besar warisan ayahnya, karena mereka bertiga terlibat utang perjudian di desa mereka).
Usut punya usut, keluarga mereka melakukan perjanjian dengan ilmu hitam, empunya ilmu ini adalah seorang yang cukup terkenal kesaktiannya, nama orang itu adalah Ki Wijar Paruk (salah satu musuh dari keluarga kami juga). Tidak main main dengan ilmu hitamnya yang memang sering memakan korban, ilmu hitam kuno dan tua yang disaat sekarang mungkin hanya satu yang masih menguasainya, ilmu kuno yang bukan sembarangan ilmu yang bisa dikuasai oleh sembarangan orang. Ilmu Lemu Panah Terung, ilmu kuno tua yang sudah lama lalu lalang dan melintang di dunia perdukunan jagad raya. Siapa yang tidak kenal dengan Ki Wijar Paruk, semua keluarga dukun pasti mengetahui sepak terjangnya yang membabi buta jika sedang menjajal ilmunya itu. Tak ayal banyak korban tak bersalah yang sering menjadi sasaran empuk dari Ilmu Lemu Panah Terungnya, termasuk banyak dari klien nenekku dan klienku sendiri.
Karena kuasa kegelapan yang sudah memuncak itulah mengapa keluarga mereka melakukan perjanjian dengan ilmu hitam. Mereka sangat ingin menguasai rumah warisan itu, mereka pun tak segan untuk menyingkirkan hambatan mereka walaupun dari keluarga mereka sendiri. Dengan teganya mereka melakukan Ilmu Lemu Panah Terung kepada Ibu Kunti dan anak anaknya yang tak bersalah itu.