Pesugihan sate Gagak Mang Yopi

Shinbul
Chapter #26

Teror Dendam Darah Ibu Kunti Part II

Negosiasi dengan Ibu Kunti dan ketujuh anak anaknya berlangsung sampai hampir 28 jam nonstop. Tidak ada satu pun dari kami berlima yang boleh mendekat ke area yang telah dipagari secara ghaib oleh Kak Damar, karena ini sangat berbahaya. Hal ini dilakukan demi untuk mencegah terjadinya hal hal yang tidak diinginkan oleh kami semua. Karena kami yakin dibalik sosoknya yang keliatan rapuh itu, tersimpan dendam darah kesumatnya begitu terasa sampai ke sanubari kami yang sedang berada disitu menyaksikan bagaimana Kak Damar mencoba bernegosiasi dengan sosok Ibu Kunti ini.

Waktu pun semakin berlalu dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam berikutnya, tampaknya hal bernegosiasi semakin tampak sengit, tidak ada yang mau mengalah satu pun. Semua pihak tetap pada pendiriannya masing masing. Sampai pada suatu saat, Kak Damar terdengar mengeraskan nada bicaranya sedemikian hingga. HAI KAMU IBU KUNTI, JANGAN KAMU BERANI MENGATUR NGATUR SAYA YA! SAYA INI ITIKAD BAIK UNTUK MEMBANTU KAMU DAN ANAK ANAKMU, UNTUK DAPAT SEGERA TERBEBAS DARI DENDAM DARAH KALIAN. AKU TAHU KALIAN SEMUA SANGAT MENDERITA AKIBAT ULAH KELUARGA KALIAN DI MASA LAMPAU. KALAU KAMU MAU MEMENUHI PERSYARATAN YANG AKU BERIKAN, PERCAYALAH, JIWA KALIAN AKAN SEGERA TERBEBAS DARI BELENGGU DENDAM DARAH INI. TOLONG CAMKAN HAL INI BAIK BAIK!

Setelah mendengar nada keras dari Kak Damar, sosok Ibu Kunti tampak mulai sedikit melemah dan goyah. Sosok yang awalnya terlihat penuh amarah dendam darah kesumat, sekarang sosok itu kelihatan mulai tampak menangis tersedu sedu sambil memeluk ketujuh anak anaknya, dalam dekapannya, sosok itu mulai bercerita, betapa tersiksanya mereka semua akibat perjanjian ilmu hitam yang dilakukan oleh kakak kakaknya yang notabene masih termasuk keluarga inti sosok Ibu Kunti itu sendiri. Betapa teganya mereka melakukan perbuatan biadab seperti itu kepadanya. Betapa sosok Ibu Kunti begitu mencintai ketujuh anak anaknya, yang telah dia rawat sendiri dengan penuh kasih sayang. Tega diambil dan dijadikan tumbal ilmu hitam begitu saja oleh kakak kakaknya sendiri!

Ibu Kunti sangat menyayangi ketujuh anak anaknya, bahkan diantara ketujuh dari mereka, anak pertamanya dan anak ketujuhnyalah yang paling tragis kematiannya. Mereka dibunuh secara langsung di depan kedua matanya sendiri disuatu malam bulan purnama kelabu! Secara bersamaan mereka ditangkap oleh orang suruhan dari kakak kakaknya, mereka diikat dan disiksa dengan sadis tanpa ampun hingga mereka meregang nyawa di depan mata ibunya sendiri, karena salah satu persyaratan utama yang diminta oleh dukun keluarganya adalah temukan dan bunuh terlebih dahulu anak pertama dan anak ketujuhnya, baru kemudian melancarkan aksi kepada anak anak lainnya. Darah dari anak pertama dan anak ketujuh dikumpulkan dalam guci guci berbahan tanah liat yang telah disiapkan oleh orang suruhan dari kakak kakak Ibu Kunti.

Setelah misi mengeksekusi anak pertama dan anak ketujuh selesai, maka target mereka berikutnya adalah menemukan anak anak berikutnya, dan ini juga merupakan persyaratan dari dukun keluarganya. HABISI SEMUANYA! Tentu dengan mudahnya mereka berhasil menangkap kelima anak anak lainnya, mereka yang sedang bersembunyi dalam ketakutan, akhirnya ketangkap oleh orang suruhan dari kakak kakak Ibu Kunti. Tanpa perlawanan berarti, kelima anak anak tersebut dimasukkan kedalam gudang lama yang terletak jauh didalam hutan gelap. Dari situ kengerian semakin mencekam. Satu persatu dari anak anak itu disiksa dengan sadis, tidak kalah sadis dari kakak dan adik mereka yang telah lebih dahulu meregang nyawanya ditangan orang suruhan dari kakak kakaknya Ibu Kunti.

Kulit mereka berlima satu persatu ditetesi oleh lilin panas, sehingga tampak luka bakar diantara mereka berlima. Mereka pun disekap tanpa makan dan minum selama hampir 5 hari, terus menerus berada di tempat pengap dan kurangnya udara membuat mereka berlima tampak semakin lemah. Hingga tepat pada akhir hari kelima, semua kelima anak anak itu pun ikut menyusul kakak dan adik mereka yang telah lebih dahulu kembali ke alam kematian. Setelah kejadian ini, tidak lupa darah mereka pun dikumpulkan ke dalam guci guci berbahan tanah liat. Semua guci guci berisikan darah anak anak sudah siap untuk dibawa kepada dukun keluarga Ibu Kunti.

Dengan wajah yang menyeringai bagai kesetanan dukun keluarga dari Ibu Kunti tertawa terbahak bahak, dia sudah hampir berhasil memenuhi semua tugas yang diberikan kepadanya itu. Tinggal tugas yang terakhir, gumamnya sambil tetap mengumandangkan tertawanya yang tanpa perikemanusiaan itu. Bayangkan saja dia baru saja menghabisi tujuh nyawa anak anak kecil tak berdosa itu. Jiwa anak anak yang seharusnya sedang menikmati masa kanak kanaknya. Jiwa yang harus mengalami kematian mengerikan akibat ulah ulah manusia manusia laknat macam keluarga dari Ibu Kunti.

Lihat selengkapnya