Setelah kejadian-kejadian aneh dan mengerikan belakangan ini, akhirnya kami semua dapat memulai sesuatu yang baru kembali (Back to normal life). Namun memang tidak semua orang mempunyai pikiran yang sama satu sama lain, ada yang benar-benar bertobat, ada yang mempunyai kehidupan baru, ada juga yang kembali menuju jalan yang salah (ini seh kebangetan banget kalau masih mau terjerumus ke dalam jalan kegelapan!). Seperti aku sendiri, hari-hariku pun tak lagi sama seperti hari-hari sebelumnya, dahulu dimana aku mempunyai kehidupan yang tenang, hangat dan damai. Sejak kejadian mengerikan itu, kehidupanku sedikit agak sunyi, aku masih tidak mempunyai keberanian lebih untuk melakukan misi ritual Pesugihan Sate Gagak itu kembali (walau pun di dalam lubuk hatiku terdalam, aku masih membutuhkan uang untuk bertahan hidup dari keadaan sejak Covid 19 ini). Karena perkataan dari Ibu Kunti selalu menghantui setiap langkahku, aku selalu mengurungkan niatku untuk memulai misi ritual Pesugihan Sate Gagak itu. AKU HARUS MENEMUKAN PEKERJAAN LAIN YANG LEBIH BAIK DAN HALAL!
Beda lagi dengan Bu Siti, akibat dari kejadian ini, akhirnya terkuak sudah selama ini kekayaan dan warisan legenda dari bisnis rumah makan keluarga besarnya ternyata telah melakukan perjanjian dan ritual penglaris yang terkenal dari desanya sendiri, yaitu Desa Ganeas. Ritual ilmu hitam penglaris untuk rumah makan keluarganya. Pantas saja semua bisnis rumah makan dari keluarganya selalu ramai dan laris manis. Suatu ritual yang tidak main-main, ritual yang membutuhkan suatu tumbal dari keluarganya sendiri. Singkat kata bisnis keluarga Bu Siti akhirnya mengalami penurunan dan kebangkrutan, satu persatu bisnis rumah makan milik keluarganya tutup permanen. Dan kabar terakhir yang aku dengar dari kerabat dekatnya, Bu Siti akhirnya menjadi orang yang kehilangan akal sehatnya sendiri alias menjadi orang yang tidak waras secara mental (istilah jaman sekarang adalah ODGJ, Orang Dengan Gangguan Jiwa). Sungguh kasihan!
Dengan Pak Toni, kabar yang terakhir aku dengar, dia bersama dengan Pak Endik melanjutkan misi ritual Pesugihan Sate Gagak itu, mereka berdua kerap mendatangi kuburan-kuburan kuno dan keramat, demi menjual Sate-sate Gagaknya. Tak hanya area pekuburan lokal, mereka juga mendatangi area pekuburan asing yang ada di beberapa daerah sekitar sana. Karena agak memaksa untuk berjualan, kurang ijin dan lain sebagainya, mereka kerap kali terusir dari area pekuburan tempat berjualan Sate-sate Gagak itu. Dan memang hidup seseorang tidak ada yang tahu, nahas Pak Toni menjadi sering kemasukan Roh-roh jahat di area pekuburan (ini karena sikapnya yang serakah ingin memiliki uang yang banyak, hasil dari misi ritual Pesugihan Sate Gagak). Jiwa dan raganya menjadi lemah sekali, hingga akhirnya nyawanya tidak dapat diselamatkan lagi! Sedangkan Pak Endik, hampir saja dia kebablasan mengikuti jalan Pak Toni, tapi beruntungnya dia masih mendengarkan nasihat dari keluarganya, dan dia pun selamat.
Terakhir kabar dari Pak Xander, dia akhirnya memulai kehidupan barunya ke luar negeri, negara yang dia tuju adalah negara seberang, yaitu negara China, dia memutuskan untuk memulai kehidupan sebagai pedagang grosiran kain / tekstil, untuk dijual di Tanah Abang atau Mangga Dua. Dengan dia sebagai distributor, murni hasilnya dia kumpulkan sendiri, hanya dengan perantara dari pihak keluarganya saja. Usahanya mengalami peningkatan seriring berjalannya waktu.
Dan kisah kakak dan adik, Kak Damar dan Kak Kurnia sendiri, mereka tetap melakukan kegiatan mereka sehari-hari, baik itu ada pasien atau tidak ada pasien. Niat mereka untuk terus menolong sesama. Terakhir mereka akhirnya bisa menaklukkan sosok dukun jahat dari Desa Balesari (Desa mereka sendiri), yaitu Ki Wijar Paruk. Sosok dukun yang dipercaya dipakai oleh keluarga dari Ibu Kunti untuk membunuh dan menumbalkannya dan ketujuh anaknya. Ki Wijar Paruk tewas dengan mengenaskan bersama ilmunya yang terkutuk itu!
Kehidupan kami semua akan tetap berlanjut dan akan terus berlanjut hingga kami semua kembali berpulang Kepada-Nya nanti.