Peta Rumah Yang Hilang

Fridolynus Sada
Chapter #1

Bab 1: Suara Kayu dan Jarak yang Panjang

Suara gergaji mesin dari lokasi pembangunan di luar jendela kantor lantai dua belas itu terdengar bagai bisikan samar dari masa lalu yang berusaha menembus kaca kedap suara. Arka menatap layar monitor berukuran tiga puluh dua inci di hadapannya. Di sana membentang denah struktur sebuah kompulsi arsitektural: garis-garis presisi bergaris tebal, sudut sembilan puluh derajat yang tak boleh melenceng selangkah pun, serta kalkulasi beban mati dan beban hidup yang dihitung hingga digit desimal terkecil.


Dalam dunia yang dibangun Arka selama tujuh tahun terakhir, tidak ada tempat untuk keraguan, ketidakpastian, atau perasaan yang tak terukur. Jika sebuah gedung miring, itu adalah kesalahan variabel kalkulasi. Jika dinding retak, itu berarti pemancangan fondasi kurang menghujam tanah. Semua masalah memiliki formula pemecahan, dan setiap ketidakpastian bisa diselesaikan dengan kalkulasi matematis yang dingin. Dunia arsitektur modern telah memberinya rasa aman—sebuah benteng beton yang rapat dan steril untuk melindungi dirinya dari kekacauan emosional yang ditinggalkannya di kampung halaman.


Ruang kerjanya dirancang dengan estetika garis bersih yang ketat. Tidak ada hiasan berlebihan. Hanya ada meja kayu gelap, maket pencakar langit bernilai miliaran rupiah di sudut ruangan, piagam penghargaan bersertifikat internasional yang terbingkai rapi di dinding, serta tumpukan kertas kalkulasi struktur di atas meja. Semua ini adalah monumen kemenangan atas usahanya melarikan diri dari kota kecil di pesisir itu dan dari bayang-bayang ayahnya yang seorang perajin kayu kaku.


Ponsel di samping papan ketiknya bergetar tajam di atas permukaan meja mahoni berserat halus. Layar menyala, menampilkan nama yang sudah jarang sekali ia tekan dalam daftar kontak: Kirana.


Arka membiarkan getaran itu berlangsung tiga kali, menghitung tiap detik yang berlalu seolah rentang waktu singkat itu bisa memberinya jarak aman dari apa pun yang akan disampaikan adiknya. Pada getaran keempat, ia menyentuh layar dan menempelkannya ke telinga.


"Ya, Ra?" suara Arka datar, terkontrol dengan sangat hati-hati agar tidak menunjukkan celah keraguan.


"Bapak hilang lagi tadi pagi," suara Kirana langsung menghantam tanpa sapaan pembuka. Ada kelelahan yang teramat berat dan mengendap dalam desah napas adiknya itu—kelelahan dari seorang manusia yang telah memikul beban sendirian terlalu lama. "Ditemukan warga di dekat dermaga tua. Beliau cuma pakai kaos tipis dan membawa amplas kayu yang sudah habis masa pakainya."

Lihat selengkapnya