Peta Rumah Yang Hilang

Fridolynus Sada
Chapter #3

Bab 3: Benda-Benda yang Tertinggal

Kamar lama Arka berbau apak dari kasur kapuk yang tidak pernah dijemur dan kayu lapuk yang dimakan kelembapan udara laut. Tak ada yang berubah secara berarti sejak hari ia mengemas koper dan pergi tujuh tahun lalu. Di atas meja belajar kayunya, papan sketsa berukuran A2 masih tergeletak melintang, tertutup lapisan debu tipis yang menebal seiring berjalannya waktu.


Arka menyapu debu itu dengan telapak tangannya. Di atas kertas kalkir tua yang mulai menguning dan rapuh, masih berbekas goresan pensil 2B miliknya—sebuah denah rumah yang dulu ia kerjakan untuk tugas akhir semester satu perkuliahan arsitekturnya. Denah yang dulu dilempar oleh ayahnya ke lantai karena dianggap terlalu kaku, dingin, dan "tidak memiliki jiwa".


"Kayu itu punya serat dan arah napas, Ar. Kamu tidak bisa cuma menggambar garis lurus di atas kertas seolah-olah dunia ini datar dan patuh pada penggarismu," kata-kata ayahnya belasan tahun lalu mendadak terdengar begitu nyaring di telinganya, memantul di antara dinding kamar yang makin menyempit.


Pintu kamar berderit pelan. Kirana masuk membawa nampan kecil berisi cangkir seng bergelombang yang mengularkan uap teh manis hangat.


"Kamar ini tidak pernah boleh diubah sama Bapak," kata Kirana sambil meletakkan cangkir di tepi meja, persis di samping papan sketsa. "Waktu aku mau geser meja ini buat tempat jahit baju dua tahun lalu, Bapak marah besar. Katanya, nanti Arka bingung kalau barang-barangnya tidak ada di tempat semula saat dia mendadak pulang."


Arka memandangi uap teh yang membumbung tipis ke udara dingin malam. "Kenapa kamu tidak tegaskan dari awal di telepon kalau kondisi ingatan Bapak sudah separah ini, Ra?"

Lihat selengkapnya