Peta Rumah Yang Hilang

Fridolynus Sada
Chapter #4

Bab 4: Tawa di Meja Makan Tua

Pagi hari di rumah masa kecil Arka selalu diawali oleh lanskap suara dan aroma yang amat spesifik—suara letupan kayu bakar yang terbakar di tungku dapur, aroma ketumbar tumbuk bercampur bawang merah goreng, serta derit lantai kayu yang tertekan oleh langkah-langkah kaki pelan. Saat Arka melangkah keluar dari kamarnya dengan punggung yang kaku akibat kasur kapuk tua yang telah kehilangan kenyagalannya, ia tertegun sejenak di ambang pintu ruang tengah.


Pak Hendra sudah duduk rapi di meja makan kayu jati. Meja itu adalah salah satu karya puncaknya belasan tahun lalu—sebuah meja makan buatan tangan berkapasitas enam orang dari bahan jati super, yang permukaannya kini penuh dengan guratan bekas pisau dapur, goresan halus pahat yang tak sengaja, serta lapisan pelitur yang mengelupas di beberapa sudut akibat usapan kain basah saban hari. Pagi ini, Pak Hendra mengenakan kemeja batik katun kusam berwarna cokelat keemasan. Kemeja itu adalah pakaian terbaiknya, yang biasanya hanya beliau keluarkan dari lemari saat hendak menghadiri pesta pernikahan di balai desa atau acara kenduri tetangga.


"Nah, ini dia anak laki-lakiku," kata Pak Hendra hangat saat pandangannya menangkap sosok Arka. Matanya yang jernih berbinar terang, bebas dari kabut kebingungan yang semalam menutupi pandangannya. Pagi ini, siklus ingatan sang ayah tampaknya sedang berlabuh di muara yang tenang. "Duduk, Ar. Ibumu baru saja menggoreng ikan bandeng cabut duri kesukaanmu. Masih hangat, baru diangkat dari wajan."


Arka mematung sejenak, lalu melempar kerlingan mata ke arah Kirana yang sedang menaruh mangkuk tanah liat berisi sambal terasi di tengah meja. Kirana hanya menggelengkan kepala sangat pelan—sebuah isyarat tak terucap agar Arka tidak mematahkan ilusi indah yang sedang singgah di kepala ayah mereka.


"Ibu... lagi di mana, Pak?" tanya Arka pelan, mencoba menata suaranya agar terdengar sealami mungkin saat mengambil tempat duduk di samping ayahnya.


"Lagi menyiram bunga mawar di halaman depan," jawab Pak Hendra dengan nada mantap tanpa keraguan sedikit pun, lalu jemarinya yang gemetar menyendokkan dua sekop nasi hangat dari bakul bambu ke atas piring kaleng bertotol hijau milik Arka. "Kamu itu kalau sekolah jangan terlalu banyak melamun. Katanya kamu mau bikin rumah paling megah di kota ini? Mana bisa bikin rumah kalau mukanya ditekuk dan merungut terus seperti itu."


Lihat selengkapnya