Peta Rumah Yang Hilang

Fridolynus Sada
Chapter #5

Bab 5: Retak yang Tak Terlihat

Sore hari, angin dari arah pantai berembus lebih kencang dari biasanya, membawa helai-helai daun kering dari pohon asam di pekarangan dan menebarkannya di lantai tanah bengkel kerja belakang. Arka melangkah lambat memasuki ruangan berukuran delapan kali enam meter itu. Tempat itu berbau sangat khas: perpaduan antara aroma tatal kayu jati yang kering, oli bekas pelumas mesin gergaji, bau cat pelitur, dan kelembapan tanah yang mengendap di balik tumpukan material tua.


Di sudut-sudut ruangan, menumpuk balok-balok kayu jati, mahoni, dan sonokeling dengan berbagai ukuran. Kayu-kayu itu tampak sudah bertahun-tahun tidak tersentuh, tertutup lapisan jaring laba-laba dan debu tebal yang memutih.


Arka mendekati sebuah meja kerja kayu yang terletak tepat di tengah ruangan—sebuah meja yang permukaannya dipenuhi takik, coretan ukuran dalam satuan sentimeter, dan sisa-sisa cat yang mengering. Di atas meja itu tergeletak sebuah kerangka lemari pakaian kecil yang belum selesai dibangun. Sambungan-sambungan dovetail (ekor burung) pada sudut-sudut kayunya terlihat sangat presisi, dipahat dengan ketelitian dan kerapian luar biasa khas buatan ayahnya. Namun, satu sisi dari lemari itu tampak terbengkalai begitu saja; kayunya masih kasar, penuh guratan sisa gergaji tangan, dan belum tersentuh amplas.


Ini adalah proyek terakhir yang dikerjakan oleh ayahnya sebelum Arka memutuskan untuk mengepak barang-barangnya dan pergi ke Jakarta tujuh tahun lalu.


Hari itu, tujuh tahun lalu, Arka berdiri di tempat yang sama persis dengan posisi berdiri Arka sore ini. Ia baru saja menerima surat penerimaan resmi sebagai junior arsitek di salah satu konsultan arsitektur bergengsi di Jakarta. Ia membawa lembaran kertas berstempel resmi itu dengan dada membusung bangga, berharap penuh bahwa sang ayah—seorang perajin kayu tradisional yang selalu memandang rendah gambar teknik di atas kertas—akan memujinya atau setidaknya memberikan ucapan selamat.


Namun, reaksi Pak Hendra kala itu jauh melenceng dari harapannya.

Lihat selengkapnya