Peta Rumah Yang Hilang

Fridolynus Sada
Chapter #6

Bab 6: Jejak yang Kabur

Jam dinding tua berbingkai kayu di ruang tengah berdetak nyaring, detakannya bergema menembus pekatnya malam yang dingin. Saat itu menunjukkan pukul dua dini hari ketika Arka mendadak terbangun dari tidurnya yang gelisah. Pendengarannya yang peka menangkap suara derit engsel pintu kayu belakang yang terbuka pelan, diselingi oleh gesekan langkah kaki yang terseret di atas tanah.


Arka tersentak, langsung bangkit dari kasur kapuknya dan bergegas melangkah cepat menyusuri lorong remang menuju bengkel belakang. Pintu kayu luar bengkel tampak terbuka lebar, melambai-lambai pelan diembus angin malam yang dingin. Di atas meja kerja, lampu pijar empat puluh watt menyala redup, melempar bayangan-bayangan panjang yang aneh ke dinding. Namun, Pak Hendra tidak ada di dalam ruangan itu.


"Kirana!" panggil Arka dengan suara setengah berbisik namun panik, mengetuk pintu kamar adiknya.


Dalam hitungan detik, Kirana keluar dari kamarnya. Wajahnya pucat dan matanya sembap. Tanpa perlu penjelasan banyak kata, ia langsung menyadari apa yang telah terjadi. Dengan gerakan yang sangat terbiasa, Kirana menyambar jaket kain dan senter seng tua yang tergeletak di dekat kompor dapur.


"Bapak biasa berjalan ke arah mana kalau kumat malam-malam begini?" tanya Arka cepat, menyalakan fungsi senter di ponsel pintarnya.


"Dermaga tua atau garis pantai pesisir barat," jawab Kirana dengan napas memburu, suaranya gemetar oleh kepanikan yang teramat biasa ia rasakan. "Bapak selalu merasa harus mencari balok kayu terapung yang terdampar di pantai buat bahan furniturnya."


Tanpa membuang waktu, mereka berdua berlari keluar rumah, membelah kegelapan jalan desa yang sunyi senyap. Angin malam yang berembus dari arah laut menusuk hingga ke tulang, membawa aroma garam dan kelembapan yang pekat. Langkah kaki Arka dan Kirana menghentak keras jalanan berkerikil, memecah keheningan malam. Rasa panik yang cemas mencengkeram dada Arka; bayangan tentang ayahnya yang pikun terpeleset dari dermaga dan tenggelam di laut gelap terus membayangi pikirannya.

Lihat selengkapnya