Pagi hari setelah insiden di dermaga tua, suasana rumah dilingkupi oleh keheningan yang amat pekat dan melelahkan. Dinding-dinding tembok kuning pudar itu seolah menyerap seluruh sisa kepanikan semalam, menyisakannya dalam bentuk kelembapan udara yang menggantung kusam di setiap sudut ruangan. Pak Hendra masih tertidur pulas di kamar utamanya. Tubuh ringkih lelaki tua itu tampak begitu kecil di bawah gulungan selimut lurik kusam, kelelahan hebat akibat keluyuran di tengah terpaan angin laut malam benar-benar telah menguras sisa tenaga motoriknya.
Arka melangkah keluar ke teras samping—sebuah sudut kecil berdinding papan kayu yang terlindung dari terik matahari pagi oleh naungan rimbun daun-daun pohon mangga arumanis. Di sana, di atas meja kayu berkaki tiga yang permukaannya miring, Kirana sedang duduk menyendiri. Jemari adiknya yang kurus bergerak tekun memilah-milah lembaran tanaman obat kering—daun kumis kucing dan perasan jahe merah—sebelum kemudian merapikan tumpukan kertas kuitansi pembayaran dokter, resep obat puskesmas, serta lembaran tagihan listrik yang sudah menumpuk sejak tiga bulan terakhir.
Arka berdiri sejenak di dekat pintu samping, memperhatikan jemari adiknya yang gemetar tipis saat merapikan angka-angka nominal di kuitansi tersebut. Perasaan bersalah yang teramat dalam kembali menyengat ulu hatinya dengan begitu tajam.
"Berapa biaya pengobatan dan perawatan Bapak tiap bulannya, Ra?" tanya Arka pelan, memecah keheningan sembari mengambil tempat duduk di bangku kayu kecil di seberang meja.
Kirana tidak langsung mendongak. Tangannya terus bekerja menyeleksi daun-daun kering dengan ketelitian yang dipaksakan. "Aku masih bisa menutupnya dari gajiku mengajar honorer di Sekolah Dasar dan hasil jualan kain tenun motif pesisir secara daring, Mas," jawab Kirana tanpa menatap mata Arka sama sekali. Suaranya datar, membentang dingin bagai garis batas yang sengaja dibentuk untuk menolak kehadiran Arka.
"Ra, aku punya uang," pangkas Arka cepat, menarik napas panjang untuk menahan rasa frustrasinya. Ia merogoh saku celananya, mengambil dompet kulitnya, lalu meletakkannya di atas meja. "Tabunganku di Jakarta lebih dari cukup untuk menanggung seluruh biaya hidup rumah ini, biaya dokter spesialis neurologi terbaik di kota provinsi, atau bahkan menyewa perawat medis profesional untuk standby dua puluh empat jam di sini. Kenapa kamu selalu menolak dan terkesan defensif tiap kali aku mau bantu lebih?"
Kirana menghentikan gerakan jemarinya secara mendadak. Kertas kuitansi di tangannya terperosok ke atas meja. Ia perlahan mengangkat kepalanya, memusatkan pandangan matanya yang tajam dan sembap lurus-lurus ke dalam manik mata Arka. Tidak ada lagi raut lelah yang pasrah di sana; yang tersisa hanyalah kilat amarah yang membara, dipadukan dengan kepedihan mendalam yang telah mengendap bertahun-tahun tanpa pernah menemukan muara pelampiasan.