Sore harinya, langit di atas garis pantai pesisir barat dibasahi oleh rona jingga keemasan yang membias indah melalui celah-celah awan komulonimbus yang tipis. Cuaca sore itu amat bersahabat; angin laut berembus perlahan, membawa udara sejuk yang melipatgandakan ketenangan di sepanjang pesisir. Pak Hendra terbangun dari tidur panjangnya dalam kondisi fisik yang relatif stabil dan pikiran yang teramat tenang. Fase linglungnya mereda untuk sementara waktu, menyisakan raut wajah tua yang damai.
Melihat kondisi ayahnya yang sedang berada di grafik membaik, Arka memberanikan diri mengajak Pak Hendra dan Kirana berjalan-jalan menyusuri pantai muara—sebuah kawasan pesisir berpasir hitam kelabu yang berjarak hanya lima ratus meter dari belakang rumah mereka. Pantai itu adalah tempat sakral bagi masa kecil mereka; tempat di mana keluarga mereka dulu selalu menghabiskan waktu sore di hari Minggu ketika almarhumah ibu mereka masih hidup.
Mereka bertiga berjalan dengan tempo yang sangat lambat di sepanjang garis pantai yang basah oleh sisa hempasan ombak surut. Pak Hendra berjalan di tengah-tengah, diapit rapat oleh Arka di sisi kanan dan Kirana di sisi kiri. Kedua tangan tua sang ayah memegang erat jemari kedua anaknya, sebuah pegangan insting yang hangat dan posesif.
"Dulu di sekitar tebing karang di ujung pantai itu banyak sekali kerang batik," gumam Pak Hendra tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat jernih dan santai, tanpa ada keraguan atau nada kebingungan yang biasanya mendominasi percakapan beliau. Tangannya yang bebas terangkat menunjuk ke arah gundukan karang hitam yang mencuat di batas air surut. "Ibumu itu... kalau sore hari Minggu begini, paling suka menyuruh Bapak mencari kerang batik ke sana. Nanti sampai di rumah, beliau bakal memasak sup kerang kuah asam pedas bercampur daun kemangi."
"Sekarang kerang batiknya masih banyak di sana, Pak," sambung Kirana lembut, mengelus lengan kemeja ayahnya dengan senyum tipis yang tulus mengembang di bibirnya. "Tapi sudah jarang ada warga yang mau mencari ke sana karena jalannya licin."