Malam harinya, sekitar pukul sebelas malam, rumah kembali diselimuti oleh kesunyian yang tenang. Pak Hendra sudah tertidur sangat nyenyak di kamar utamanya setelah meminum dosis obat penenang yang diberikan dokter. Kirana sedang keluar rumah sejak satu jam lalu untuk menghadiri rapat persiapan festival tenun desa di balai warga bersama para pemuda karang taruna.
Arka berdiri di tengah kamar tidur orang tuanya—sebuah ruangan berukuran empat kali empat meter yang berbau campuran minyak kayu putih, kapur barus, dan aroma kayu lapuk yang khas. Arka memutuskan untuk memanfaatkan keheningan malam itu untuk membersihkan lemari pakaian kayu jati berukir tua yang terletak di sudut kamar—lemari besar tiga pintu yang sudah belasan tahun tidak pernah dirapikan secara menyeluruh.
Arka membuka pintu lemari bagian bawah yang terbuat dari papan kayu tebal. Di balik tumpukan kain sarung tua yang sudah memudar warnanya dan bau kapur barus yang menyengat, jemari Arka menyentuh sebuah benda keras yang tersembunyi jauh di sudut paling dalam. Arka menarik benda itu keluar.
Itu adalah sebuah kotak kayu mahoni berukuran sedang dengan ukiran bunga melati sederhana di penutupnya. Kotak itu tampak terkunci oleh gembok kuningan kecil yang sudah agak berkarat. Namun, ketika Arka meraba bagian bawah kotak tersebut, ia menemukan sebuah kunci kuningan kecil yang diplester secara asal menggunakan isolasi kertas tua.
Arka melepas isolasi tersebut dan memutar kunci ke dalam lubang gembok. Klik. Gembok kuningan itu terbuka dengan suara derit halus.
Arka perlahan membuka penutup kotak mahoni tersebut. Ia sempat menduga akan menemukan barang berharga seperti simpanan uang tunai tua, sertifikat tanah rumah, atau perhiasan peninggalan almarhumah ibunya. Namun, isi di dalam kotak itu sama sekali jauh dari dugaan tersebut.