Pagi harinya, sebelum matahari benar-benar terbit membiaskan sinarnya di balik garis laut, Arka sudah berdiri di tengah bengkel kerja belakang. Udara dingin pesisir merayap masuk lewat celah-celah papan dinding, membawa aroma tanah basah dan tatal kayu tua. Di hadapannya, kerangka lemari pakaian kayu jati yang terbengkalai selama tujuh tahun itu masih tergeletak bisu di atas meja kerja.
Arka menyingsingkan lengan kemeja panjangnya hingga ke siku. Ia mengambil lembaran kertas amplas kasar berserat tebal dan balok kayu kecil penjepit dari rak alat ayahnya. Dengan gerakan yang terukur, ia mulai menggosok sisi kanan kerangka lemari yang masih bertakik kasar dan pepat.
Suara gesekan amplas pada serat kayu jati yang keras bergema konsisten di dalam ruangan yang sunyi: srek, srek, srek.
Dua jam berlalu ketika langkah kaki yang pelan dan ragu menyusul ke bengkel. Pak Hendra berdiri di pintu, memandangi Arka yang bermandikan peluh dan tertutup debu halus kayu di sekujur kemejanya. Lelaki tua itu mengerjap-erjap, matanya jernih pagi ini, memandangi sosok Arka dan lemari yang sedang digarapnya.
"Kamu... memegang amplasnya terbalik, Ar," suara Pak Hendra memecah hening, parau dan pelan namun teramat jernih.