Peta Rumah Yang Hilang

Fridolynus Sada
Chapter #11

Bab 11: Cetak Biru dan Kayu Pesisir

Tiga bulan berlalu sejak pagi di mana Arka memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta. Keputusan itu tidak diambil tanpa pergulatan. Ia harus menyelesaikan kontrak pekerjaan dengan beberapa klien secara jarak jauh, melepaskan posisi menterengnya di konsultan arsitektur ibu kota, dan memindahkan seluruh peralatan kerjanya ke kota pesisir kecil ini.


Sebuah meja gambar berukuran besar kini berdiri tepat di samping meja kerja kayu milik ayahnya di bengkel belakang. Di atas meja arsitek itu terbentang kertas kalkir berukuran A1, berdampingan dengan kotak alat pahat, kompas, pensil teknis, dan potongan-potongan sampel kayu jati lokal. Arka memadukan dua dunia yang dulu ia anggap saling bertolak belakang: presisi kalkulasi modern dan kehangatan serat kayu tradisional.


Pagi itu, sinar matahari menembus celah-celah kisi jendela bengkel, membiaskan garis-garis cahaya ke emas di atas kertas gambar. Arka sedang menyelesaikan sketsa awal sebuah proyek renovasi fasilitas publik desa—sebuah balai kerajinan tenun dan ruang komunal warga pesisir yang dipesan oleh pemerintah daerah lokal.


Pak Hendra duduk di bangku kayu di samping Arka. Meski ingatan jangka pendek sang ayah masih sering tertutup kabut kepikunan dan memudar di sore hari, kehadiran Arka yang konsisten di sisinya memberi efek menenangkan yang luar biasa. Setiap kali Pak Hendra mulai linglung, aroma tatal kayu dan suara serutan gergaji di dekatnya seolah menjadi jangkar yang menariknya kembali ke masa kini.


"Pak, untuk bagian struktur atap ruang utama ini, Arka mau pakai sambungan kayu pen dan lubang (mortise and tenon) tanpa paku besi," kata Arka sambil menunjukkan gambar detail potongan kayu di kertas kalkir. "Kira-kira kayu jati lokal cukup kuat menahan beban angin laut malam tidak?"


Lihat selengkapnya