Peta Rumah Yang Hilang

Fridolynus Sada
Chapter #13

Bab 13: Senandung di Teras Belakang

Musim angin barat mulai menyapa pesisir desa, membawa aroma hujan yang senantiasa menggantung di atas garis cakrawala laut setiap sore. Dinding-dinding kayu bengkel belakang kini tak lagi terasa dingin dan apak. Ruangan itu telah bertransformasi menjadi sebuah studio kerja gabungan yang hidup—sebuah tempat di mana wangi serutan kayu jati berpadu secara harmonis dengan aroma kertas kalkir dan tinta teknis.


Di sudut meja gambar Arka, sebuah cetak biru besar untuk proyek revitalisasi balai kerajinan tenun warga desa sudah berdiri anggun dalam bentuk maket skala satu banding lima puluh. Struktur atapnya mengambil bentuk perahu tradisional, ditopang oleh tiang-tiang kayu jati lokal dengan kaitan sambungan pasak sonokeling tanpa paku—sebuah rancangan kompromi indah antara presisi struktur arsitektur modern dan kearifan pertukangan tua sang ayah.


Pak Hendra duduk di kursi goyang kayu jati di teras belakang yang menghadap langsung ke pekarangan. Pangkuannya ditutupi selimut kain tenun motif pesisir buatan Kirana. Sore ini, kabut ingatan kembali merayap pelan di kepala sang ayah. Beliau memandangi dedaunan pohon mangga yang berjatuhan diterpa angin, sesekali memanggil nama almarhumah istrinya dengan bisikan lembut yang samar.


Namun, tidak ada lagi kepanikan atau rasa frustrasi yang melingkupi rumah itu.


Lihat selengkapnya