Enam bulan kemudian, bangunan balai kerajinan tenun warga di tepi pantai itu akhirnya selesai berdiri. Tiang-tiang kayu jati lokal berukuran besar berdiri megah dan kokoh, menopang atap kayu berbentuk perahu tradisional yang melengkung anggun menghadapi terpaan angin laut. Di dalam ruangan utama yang lapang, puluhan penenun perempuan desa—termasuk Kirana—duduk tekun di depan alat tenun kayu mereka. Suara ketukan kayu tenun yang berirama lembut memenuhi udara, berpadu harmonis dengan deru ombak surut di luar ruangan.
Sore itu digelar acara syukuran kecil-kecilan untuk merayakan pembukaan balai kerajinan tersebut. Warga desa berkumpul di selasar depan bangunan, menikmati sajian kue-kue lokal dan teh hangat. Bangunan itu bukan sekadar karya arsitektur fasilitas publik biasa; ia telah menjadi simbol baru dari kebangkitan komunitas lokal dan bukti nyata dari perpaduan dua generasi pertukangan.
Arka berdiri di selasar luar, menyandarkan tubuhnya pada salah satu tiang utama kayu jati. Jarinya meraba permukaan kayu yang telah dihaluskan dan dilapisi minyak alami. Di bagian bawah tiang tersebut, tepat di atas sambungan pasak sonokeling yang mengunci struktur utama, terukir dua baris nama yang dipahat secara halus: Hendra & Arka.
"Ternyata pasak sonokelingnya benar-benar tidak bergeser satu milimeter pun ya, Mas," suara Kirana terdengar dari samping. Adiknya melangkah mendekat dengan selendang tenun motif pesisir berwarna biru laut yang terlingkar anggun di bahunya.
Arka tertawa kecil, memandang adiknya dengan tatapan bangga. "Bapak yang punya resep. Mas cuma menuangkannya ke dalam gambar."
"Bapak mana?" tanya Kirana sambil mengedarkan pandangan ke arah kerumunan warga.