Perjalanan darat menuju Kota Selatan memakan waktu delapan jam menyusuri jalan berliku yang membelah perbukitan batu kapur dan hutan jati meranggas. Ketika Arka tiba di tapak proyek, matahari sore baru saja menyentuh puncak atap rumah adat tua yang menjadi sasaran restorasi. Bangunan itu berdiri angkuh namun merana: tiang-tiang penyangga utamanya telah melengkung dimakan usia, papan dindingnya lapuk oleh rayap, dan genteng tanah liatnya banyak yang pecah meninggalkan celah-celah terbuka ke langit.
Arka melangkah masuk ke dalam bangunan pelataran utama. Bau debu tua, kotoran kelelawar, dan kelembapan kayu lapuk menyergap indramunya. Ia mengeluarkan meteran gulung, kacamata pelindung, dan buku sketsa sampul kulitnya.
Saat ia memanjat tangga kayu menuju struktur konstruksi atap, Arka mendapati sebuah penemuan yang membikin jemarinya membeku. Sambungan kayu pada balok bubungan utama rumah tua ini menggunakan teknik penguncian pasak ganda yang sangat langka—sebuah variasi rumit dari sambungan pasak pesisir yang hanya dikuasai oleh segelintir maester pertukangan generasi tua.