Tiga bulan kemudian, Balai Kerajinan Tenun Pesisir yang dirancang Arka mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Pameran Arsitektur dan Kriya Kayu Lokal tingkat provinsi. Udara sore di tepi pantai terasa semarak. Halaman balai yang biasanya tenang kini dipenuhi kendaraan, stan kerajinan, dan deretan pengunjung yang penasaran ingin melihat hasil karya warga setempat.
Studio Kayu Hendra & Arka menempati area utama di tengah ruangan. Di sana terpajang maket arsitektur balai tenun skala besar, lemari jati berkilau yang dikerjakan Arka dan Pak Hendra, serta sampel-sampel sambungan pasak kuno yang dikerjakan oleh Bayu di bawah bimbingan sang maestro tua.
Pengunjung dari berbagai daerah—mulai dari mahasiswa arsitektur, praktisi kriya, hingga pejabat dinas kebudayaan—bergantian memadati stan mereka. Banyak yang kagum menyaksikan bagaimana konstruksi kayu tradisional tanpa paku bisa dipadukan begitu anggun dengan elemen arsitektur modern yang fungsional.
Pak Hendra duduk tenang di kursi kayu di samping maket utama. Beliau mengenakan kemeja batik warna cokelat keemasan. Meski tidak banyak bicara dan sesekali tatapannya tampak menerawang jauh, kehadiran fisik sosok tukang kayu tua itu memancarkan wibawa yang amat kuat.