Kepergian Pak Hendra menyelimuti rumah tua itu dengan keheningan yang dalam. Namun, tidak ada rasa duka yang pahit dan gelap di sana. Yang tersisa hanyalah kehangatan dari kenangan-kenangan manis serta jejak-jejak keberadaan sang maestro tua yang tertanam di setiap sudut ruangan.
Pagi setelah pemakaman, suasana bengkel belakang terasa begitu tenang. Matahari pagi menerobos lewat celah-celah kisi kayu, memantulkan pendar emas pada butiran debu gergaji yang melayang di udara. Arka melangkah masuk ke dalam bengkel dengan perlahan. Di atas meja kerja utama, peranti pahat, martil kayu, dan batu asah basah milik ayahnya teratur rapi—persis seperti cara Pak Hendra merapikannya sewaktu beliau masih bekerja.
Kirana menyusul masuk membawa dua cangkir teh hangat. Ia meletakkan cangkir itu di ujung meja, lalu menyandarkan bahunya ke samping Arka.