Petak Kecil

Faldhy Dwi B.
Chapter #4

Madam Dewi Rahayu #4

Ruangan kami sudah selesai diisi semua barang dari rumah sebelumnya, kemarin pagi ayah dan Ardi sudah mengangkat lemari, perlengkapan dapur, perlengkapan mandi dan seluruh barang yang kami punya. Sekarang ruangan yang kami tinggalipun sudah menjadi sangat sesak lagi dan tetap saja tidak cukup untuk seluruh anggota keluarga. Setelah pertengkaran ayah dan paman Asrul pada malam itu, ayah kembali berbincang dengannya seperti tidak ada konflik diantara mereka. Bahkan ayah juga memohon kepada paman asrul untuk memperbolehkan ruang gudang dilantai atas digunakan untuk tempat tidur yang dimana sekarang ini digunakan oleh Ardi. Pada akhirnya memang harus ada yang terpisah tempat tinggal dari keluarga kami dan itu adalah Ardi.

Kabar terakhir yang aku dapatkan dari perbincangan para orang tua, paman Abdul ternyata sekarang lebih sering tidur di mesjid dekat rumah. Dia hanya disana untuk tidur saja, sesekali masih sering terlihat terduduk dan melamun di depan rumah seperti biasanya. Hanya Paman Acep yang masih selalu mengkhawatirkannya, yang lain lebih seperti masa bodoh. Aku sangat berterimakasih karena ia mau berkorban untuk keluarga kami, walaupun keanehan pada dirinya tidak pernah bisa kumengerti bahkan sesekali aku merasa takut padanya.

Sudah seharian aku terus saja berada di dalam kamar. Pagi tadi ibu sudah memasak, mencuci baju, menjemur pakaian, memandikan Inu, mengasuh Ian dan tentu saja tak lupa memarahiku. Ibu selalu menganggapku tidak banyak membantu apa-apa ketika dirinya disibukan oleh aktivitas sehari-hari. Bahkan ibu bisa juga memarahiku karena aku diam dirumah saja, tidak pergi bermain kemana-mana. Ibu pernah bilang, kalau aku tidak dirumah, itu bisa membuat ibu lebih leluasa untuk mengerjakan semua tugasnya. Hanya saja diuar rumah pun belum tentu lebih aman bagiku. Aku mempunyai banyak pengalaman buruk tentang pertemanan.

Aku masih menunggu Tommy pulang dari sekolahnya. Aku akan sedikit aman bila bermain dengannya, setidaknya aman dari teman-temanku yang lain. Aman dari berbagai macam ejekan.

Sekarang aku hanya termenung didepan jendela yang menghadap ke semak-semak tinggi yang telah menjadi sebuah pagar rumah besar. Rumah yang waktu itu begitu membuatku takjub ketika dilihat walaupun dari gelapnya malam. Aku masih penasaran terhadap pemilik rumah itu. Tommy pernah bercerita tentang seseorang yang dia sebut dengan Made. Beberapa kali Tommy sering mengajakku menemuinya, ia memiliki sebuah warung jajanan dan banyak anak yang suka main disana. Tapi untuk kesekian kalinya, aku menolak ikut, bagiku saat itu, cerita Tommy tidak terlalu membuatku tertarik dan keberadaan anak lain bisa saja malah membuatku tidak nyaman.

Tapi andai saja aku tau lebih dulu tempatnya seluas yang aku lihat kemarin, aku mungkin sudah sering juga main ke sana. Jarang-jarang kami sebagai seorang anak menemukan tempat bermain yang luas ditengah kota dan diantara padatnya rumah penduduk. Aku rindu sekali berlarian di lapangan luas bersama banyak sekali teman yang tidak saling mengganggu.

Aku mendengar suara gerusak-gerusuk di depan kamar. Kalau sudah ada suara seribut itu, sudah dipastikan kalau Tommy sudah kembali dari sekolah dan telah hadir lagi dirumah.

“Hai Tom, kau sudah pulang?” aku langsung keluar kamar dan menyapanya.

“Santai cil... kau ingin bertanya lagi tentang rumah Made kan? Nanti dulu ya, aku lapar. Mau makan dulu” Tommy langsung mengerti aku. Mungkin dia juga sudah bosan karna semenjak malam itu aku terus saja bertanya tentang rumah itu ke dirinya.

Tidak perlu menunggunya terlalu lama. Tommy langsung muncul lagi dari kamarnya dan aku pun sudah siap untuk mendengarkan banyak cerita darinya.

“Ayoo cil, dari pada aku harus mengorbankan kerongkonganku hingga kering dengan bercerita padamu, sebaiknya kau langsung ikut saja denganku. Kita ke warung Made” Tommy dengan energinya yang luar biasa langsung mengajak bermain, tidak tampak kelelahan pada dirinya walaupun dia baru saja pulang sekolah.

Aku langsung bergegas mengikutinya. Karena letak rumah tersebut tepat dibelakang rumah kami, dalam sekejap kami sudah sampai dirumah itu.

Tidak seperti perkiraanku waktu itu, gelapnya malam menutupi tampilan rumah itu yang sebenarnya. Halamannya memang luas, tapi penuh dengan puing-puing bangunan. Rumahnya pun masih dalam kondisi belum selesai direnovasi. Temboknya belum dicat, jika melihat atapnya, kita akan langsung melihat bawah genteng, banyak barang bekas di depan rumah. Beruntung dipinggir-pinggir halaman masih ada beberapa pohon tinggi yang membuatnya sedikit teduh.

Memang tidak seperti dugaanku, tapi ini sangat jauh lebih baik dari rumahku, atau bahkan rumah-rumah lain yang ada disekeliling pemukiman ini. Kami benar-benar menemukan ruang untuk bermain.

Disana juga terdapat sebuah warung kecil yang berjulan aneka minuman dan makanan ringan. Ada beberapa anak yang berkumpul disana. Ada 2 anak perempuan, dan 2 anak laki-laki. Menjadi 4 anak laki-laki ketika aku dan Tommy datang.

Lihat selengkapnya