Petak Kecil

Faldhy Dwi B.
Chapter #5

Pendengar Ulung #5

Bukan hanya Made yang begitu ramah, kocak dan menyenangkan. Bukan hanya Putri yang begitu cantik dan juga menawan, serta bukan juga Tommy, Robin, Alvin, Julia dan juga Niki yang seseru itu jika diajak bermain. Tapi masih ada lagi yang membuatku betah bermain di halaman luas itu, Dia adalah Ratu Rema Winata. Kami semua memanggilnya dengan panggilan Teuteu.

Sebuah panggilan yang muncul dari mulut keponakannya, Putri. Teuteu Ratu adalah tantenya Putri. Adik bungsu dari Made. Berdasarkan cerita dari Tommy, Made merupakan anak ketiga dari 4 bersaudara. Kakak pertama laki-laki, kakak kedua perempuan, mereka semua sudah berkeluarga dan sudah tidak tinggal di kota ini lagi, Made anak ketiga dan Teuteu Ratu anak ke empat. Bersama dengan Opa Suryo dan Putri, mereka hanya tinggal berempat di rumah itu. Ibunya Made sudah cukup lama meninggal dunia.

Teuteu Ratu begitu nyaman jika diajak bercerita. Dia mau mendengarkan semua cerita yang kita bagi kepadanya. Seringkali dia juga memberikan banyak masukan bahkan mengajari kami juga tentang banyak hal. Jarang sekali aku menemukan orang dewasa yang mau menyempatkan diri mendengarkan ocehan anak kecil sepertiku, seperti kami.

“Jadi kamu sudah berapa lama tinggal di daerah sini cil?” teuteu mengajukan pertanyaan setelah aku cukup panjang bercerita banyak hal padanya.

“Sudah satu taunan teu”

“Hm gitu, tapi ko kamu jarang keliatan?”

“Sewaktu aku masih tinggal didekat sungai belakang, aku jarang bermain ke daerah sini. ”

“Terus kamu mainnya sama siapa?”

“Hm, ada sih. Rio dan Rivan. Tapi sekarang sudah tidak lagi” aku mulai ikut duduk karena sedari tadi lelah berdiri.

“Lah kenapa begitu?”

“Iyah. Mereka tidak jauh berbeda dengan Robi, Niko dan Juan. Musuh-musuhku sewaktu aku masih tinggal di kabupaten dulu”

“Oh, mereka yang pernah kamu ceritakan itu ya?”

“Iyaah. Makanya aku lebih sering diam di rumah aja”

Ketika itu waktu sudah menunjukan pukul 17.00. Aku masih begitu bersemangat bercerita. Ada Teteu Ratu dan Made mendengarkan ceritaku di kursi-kursi warung, ada Tommy juga yang sedang ikut sibuk dengan ayahnya membuat perkakas dari barang bekas, Anak-anak lain yang rumahnya agak jauh dari halaman Made sudah pulang karena sudah hampir malam juga. 

“Teu, kita jadi kan berkemah lagi?” sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Tommy yang sudah selesai membantu ayahnya. Sambil bertanya, dia mendekat menghampiri kami di warung.

“Nanti tanyain ke kakak ya” jawab teteu Ratu.

“Memangnya akan berkemah dimana?” aku penasaran dengan pembicaraan mereka.

“Oh iyah, kamu anak baru ya? Haha” Tommy mulai akan berlaga lagi.

“Dulu kita pernah berkemah cil, disini, di halaman luas ini. Kita berkemah ketika libur sekolah. Kakak sama teuteu yang mengadakannya. Yang ikutannya anak-anak yang suka main disini saja” Tommy bercerita sambil menunjuk titik-titik tempat dulu mereka berkemah.

“Nanti kita bangun tenda, ada api unggun, ada game gitu, ada misi-misinya juga. Serulah pokonya” lanjut Tommy dengan suara yang penuh semangat.

“Kamu ikut aja cil” Teuteu Ratu mengajakku.

“Memangnya boleh teu?” tanyaku ragu.

“Ya boleh dong. Siapa aja boleh ikut selama tendanya masih muat”

Lihat selengkapnya