Petak Kecil

Faldhy Dwi B.
Chapter #6

Pembelaan Diri #6

Ibu sudah membangunkanku pagi ini. Seperti biasa aku dibangunkan dengan nada suara yang tinggi serta diselingi makian. Ketika ibu Lelah dengan pekerjaan, maka amarahnya akan disalurkan kepada kami anak-anaknya. Terutama kepadaku. Ian jarang sekali dimarahi, apalagi dengan Inu. Ardi sudah tidak pernah mendapatkan amarah dari ibu akhir-akhir ini, selain karena belakang ini Ardi memang sudah tinggal satu ruangan dengan kami, aku rasa ibu juga sudah sangat enggan untuk berurusan lagi dengan Ardi.

Bersaing untuk menggunakan kamar mandi seperti yang pernah Tommy katakan, tampaknya tidak pernah aku rasakan. Hal itu hanya terjadi pada ibuku, untuk kebutuhan mencuci, memandikan Ian dan juga inu. Lagi pula aku tidak pernah mendapatkan intruksi untuk membersihkan tubuhku sendiri. Ibu hanya fokus pada dua adik kecil saja, bertanya apakah aku sudah makan atau sudah mandi tak pernah aku dengar semenjak 2 bocah kecil itu muncul.

Aku keluar rumah dengan pakaian tidur dan tanpa setetes air pun yang mengenai tubuhku sebelumnya. Ini sudah masuk masa libur sekolah sehingga aku dapat melihat Tommy dan anak-anak lain dipagi hari.

“Hai cil,, kamu pasti belum mandi” Tommy muncul dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk dan rambut yang masih basah. Banyak tetesan air yang jatuh dari tubuhnya.

“Nanti saja mandinya. Masih ngantri” ujarku sambil berjalan terus ke luar rumah, padahal kamar mandi waktu itu sudah tak ada yang memakainya.

Aku hendak menghirup udara segar setelah rasa pengap menyelimutiku selama tidur di petak kecil. Matahari sudah cukup tinggi sebenarnya, karena setahun terakhir aku sudah tidak sekolah, aku menjadi lupa bagaimana rasanya bangun pagi.

Tempat tujuanku yang utama tentu saja ke halaman rumahnya Made. Belum ada anak-anak yang bermain disana, hanya ada Made yang terlihat sedang membereskan warung.

Baru beberapa langkah aku memasuki halaman, aku melihat ada orang lain disana. Tak jauh dari orang tersebut juga terdapat sebuah sepeda dengan jok kulit berwarna coklat terpasang begitu tinggi di sepedanya yang berwarna hijau tua. Di sepedanya juga terdapat sebuah tas yang sepertinya berisi barang-barang perkakas.

Orang itu sekarang sedang berjongkok menggali reruntuhan bangunan yang berserakan di halaman. Ia mengenakan Kaos hitam dengan ‘manset’ serta celana pendek dan sepatu olahraga. Kepalanya ditutupi topi bulat dengan tangan terbungkus sarung tangan menggenggam sekop. Badannya tinggi besar, yang kalau ku teliti lagi melihatnya ternyata aku mengenal dia. Dia adalah ka Bumi.

Aku duduk dikursi warung sambil memandanginya dari jauh. Sekarang dia sedang meratakan tanah yang tak jauh dari warung.

“Hei, kamu mau jajan ga cil?” Made menyapaku dengan menawarkan jajanannya.

“Iyah Made. Nanti saja.”

Aku hanya diam melihat apa yang dilakukan ka Bumi. Made juga tak berbicara karena sedang menghitung pemasukan warung tampaknya. Tak lama kemudian, Teuteu Ratu keluar dari rumah.

“Acil udah disini lagi aja. Jadi pelanggan pertama ya?” Teuteu Ratu langsung menyapaku tak lama setelah memunculkan dirinya di pintu rumah.

“Sepertinya tidak yang pertama teu, ka Bumi sudah ada disini sebelum aku datang” sambil menunjuk Ka Bumi yang masih sibuk di halaman.

“Oh.. Ka Bumi kan memang setiap pagi ke sini. Bersepeda kemudian merapihkan halaman. Katanya dia mau merubah halaman luas ini menjadi lebih menyenangkan.” Jelas Teuteu Ratu sambil mulai duduk di sebelahku.

“Memangnya akan dibuat seperti apa?”

“Hm. Aku juga kurang tau. Kita tanya langsung saja ya”

Teuteu Ratu mulai memanggil kakak. Ka Bumi juga berhenti sejenak dari pekerjaannya, mengambil minum dan mulai menghampiri kami.

“Kata Acil mau dibuat seperti apa halamannya ka?” tanya Teuteu Ratu

“Pokonya kita buat lebih nyaman. Tidak gersang seperti sekarang” Ka Bumi ikut duduk dan mengelap keringatnya yang bercucuran yang selanjutnya dia teguk air minum dalam gelas di genggaman tangannya itu.

“Aku juga mempersiapkan lahan untuk kita berkemah. Ku ratakan tanah agak nanti tenda bisa dibangun dan nyaman untuk ditiduri. Kau akan ikut kan?” jelas Ka Bumi.

“Aku ingin. Kalau boleh”

“Boleh dan memang sudah seharusnya” Ka Bumi tak lama beristirahat. Dia melakukan pekerjaannya lagi. Tak lama kemudian Tommy dengan rambut kelimis, baju rapih dan tubuh yang sangat harum datang juga ke halaman ini sambil menggunakan sepeda.

“Wiih.. udah ada kakak lagi aja nih.” Tommy langsung menyapa ka Bumi.

Lihat selengkapnya