Pelipisku masih terlalu sakit jika memaksakan mataku terbuka secara lebar. Bagian matanya juga masih bengkak walaupun semalaman sudah dikompres dengan es batu. Aku hanya berusaha membela diri, tapi ketika ayah dan ibu tau, tetap saja aku yang kena marah karena dianggap sudah memukuli anak orang. Akhirnya aku dihukum dengan tak diberi uang jajan dan tidak boleh kemana-mana selama beberapa hari ke depan, entah sampai kapan. Hal yang sama juga dialami oleh Tommy, dia juga dihukum sepertiku. Tommy tidak terlibat perkelahian sama sekali, tapi ayahnya tetap saja marah apalagi setelah orangtua Si Rio Tonggos itu mendatangi rumah kami kemarin malam. Aku dan Tommy secara terang-terangan diadukan langsung kepada kedua orangtua kami.
Untungnya orang tua Rio tidak meminta ganti rugi apapun, orang tua kami sudah cukup banyak berbicara dan diakhiri dengan damai. Yang paling aku ingat dari percakapan semalam adalah apa yang ayahku bilang. “namanya juga anak-anak, biarkan saja” itu katanya. Bahkan marahnya ayah tidak separah biasanya, ibu jauh lebih menyeramkan ketika marah padaku tadi malam. Tapi tetap saja, hukuman yang aku jalani hari ini adalah atas kehendak ayah.
Sekarang sudah cukup terik matahari di luar sana, penjagaan ibu padaku sangat ketat dihari itu. Sedikit pergerakan dariku saja sudah bisa menimbulkan pertanyaan dari ibu, “mau kemana kamu?” katanya berkali-kali. Aku hanya bisa bergerak di sekitaran rumah saja. Hal yang sama terjadi pada Tommy, aku beberapa kali berpapasan dengannya ketika hendak ke kamar mandi. Hanya saja kami tak berani untuk bermain bersama, bermain di rumah bukan suatu pilihan yang mengasyikan. Untuk bergerak saja terlalu sempit apalagi untuk bermain.
Seharian ini aku hanya berdiam diri di kamar serta sesekali ke kamar mandi ketika ingin kencing. Sebenarnya aku masih bisa keluar rumah, yaitu jika ibu menyuruhku ke warung untuk beli sesuatu, walaupun jika aku pergi terlalu lama ia akan langsung mencari ku.
Aku baru sampai di rumah lagi setelah ibu menyuruhku membelikan gas untuk memasak. Ketika aku sedang di pintu hendak masuk ke rumah, seseorang seperti terburu-buru menabrakku hingga terjatuh. Dia adalah Ardi. Baru kali ini aku melihatnya. Selama dia tidur di ruang gudang di atas, pertemuanku dengannya bisa dihitung jari, bahkan bisa sampai 2 atau 3 hari tak bertemu.
“Aduh, lihat-lihat dong kalau jalan” aku menggerutu sambil memegangi pinggangku yang sakit terbentur tanah.
“Kau yang menghalangiku” jawab Ardi ketus.
“Kau mau kemana?” tanyaku lagi.
“Tak perlu tau. Dan kalau ada yang bertanya padamu tentangku. Bilang saja kalau kau tak pernah melihat aku. Jangan menggangguku” Ardi langsung bergegas lagi setelah berbicara padaku dengan nada mengancam.
Aku kembali lagi ke kamar setelah menyerahkan semua barang belian yang diminta ibu.
Gelagat Ardi tadi sungguh mencurigakan. Kalau di fikir-fikir, aku sebenarnya tidak pernah tau tentang seperti apa Ardi itu. Dia yang paling tertutup dan jarang berbicara, yang aku ingat, dia jarang sekali berkumpul dengan kami bahkan ketika Ian dan Inu belum ada. Ardi lebih banyak bermain dengan teman-temannya di luar dan hanya akan ada di rumah ketika Ayah dan ibu meminta bantuan padanya. Bahkan dalam beberapa waktu aku sering kali merasa kalau Ardi itu memang tidak ada, aku lupa kalau aku punya kakak.
Aku jadi penasaran terhadap ruangan yang dipakai Ardi untuk tidur. Sepertinya jika aku melihat ke ruangan itu, mungkin aku akan mendapatkan banyak informasi tentang Ardi. Tapi ada sedikit masalah. Area atas bukanlah suatu tempat yang bisa aku datangi dengan sesuka hati. Ayah sudah menyatakan perjanjian kepada paman Asrul jika dia dan keluarganya tidak akan menginjakan kaki di areanya paman Asrul. Terkecuali Ardi yang boleh menggunakan gudang untuk tempat tidurnya, itupun setelah ayah melakukan permohonan. Oleh karena itu, jika aku ketahuan pergi ke atas, aku pasti akan kena marah lagi dan hubungan paman Asrul dan Ayah akan semakin memburuk.
“Aku butuh bantuan Tommy” fikirku dalam hati.
Kondisi rumah sore itu tampak agak sepi. Diluar hujan besar. Ayah, Paman Asrul, dan Bibi Anna tidak dirumah karena bekerja. Paman Acep juga sedang di mesjid. Di kamarku, Ian dan Inu sedang tidur di temani Ibu. Kalau sesuai dengan prediksiku, diatas hanya ada Mia, Bibi Rahma dan juga adiknya Mia, Arul.
Kondisi seperti ini adalah kondisi yang paling tepat untukku melakukan penyusupan.
“Bu, aku ke kamarnya Tommy dulu ya sebentar” berharap ibu mengijinkan.
“Iyah. Jangan lama-lama dan jangan kemana-mana juga” jawab ibu.
“Baik. Aku hanya akan diam di kamarnya. Lagi pula diluar juga hujan besar”
Aku langsung bergegas sebelum ibu berubah pikiran. Aku langsung menghampiri kamar Tommy dan masuk ke dalamnya tanpa mengetuk terlebih dahulu.