Petak Kecil

Faldhy Dwi B.
Chapter #8

Sang Pencari Perhatian #8

Aku masih mencari cara dan waktu yang tepat untuk melaporkan hasil temuanku pada ayah. Hanya saja jika kukatakan apa adanya, itu akan seperti usaha bunuh diri bagiku. Aku akan kena marah juga karena sudah menginjakan kakiku ke lantai atas.

Sejujurnya masih belum mengerti tentang seperti apa Ardi itu, kenyataan kalau dia bisa membeli rokok begitu banyak tidak berarti aku telah memahaminya. Kita sebagai kakak beradik benar-benar berjarak. Aku dan Ardi hanya menjalin hubungan sebatas korban dan pelaku tindakan jahil.

Aku masih dalam masa hukumanku. Hari ini tidak ada apapun yang aku lakukan. Hanya membantu ibu sesuai perintah dan menemani Ian atau Inu bermain. Hari begitu saja berlalu sampai tiba pada sore hari dan ayahpun sudah kembali pulang.

“Para pegawai di kantor makin lama makin seenaknya saja” ayah kembali dari tempat kerjanya sambil marah-marah.

“Ada apa lagi yah?” tanya ibu.

“Mereka itu kalau menyuruhku sudah tidak lagi melihat waktu, setiap pagi hari aku harus membersihkan kantor, menyapu, mengepel, dan mengelap meja-meja mereka. Tapi belum juga selesai ku kerjakan mereka sudah menyuruhku untuk melakukan hal lain”

Ayah bekerja disebuah pabrik beton dipinggiran kota sebagai Cleaning Service. Setelah lama menjadi pekerja serabutan, akhirnya ayah dapat pekerjaan dan dikontrak di pabrik itu. Hanya saja ketika ayah bekerja disana, aku menjadi lebih sering melihat ayah marah-marah tanpa sebab.

“Masih mending kalau level manager yang menyuruhku. Mereka yang sering menyuruhku hanya para pegawai yang levelnya masih staff tapi berlaga bagaikan bos” ayah berganti baju dan langsung meluruskan badannya di kasur.

“Hm, harusnya mereka semua tau diri juga sih ya.. kamu memangnya tidak bisa protes?” ibu terdengar mendukung ayah

“Entahlah. Tapi rasanya aku ingin mencari pekerjaan yang lain lagi saja”

Dengan keluhan yang ayah ceritakan pada ibu, tampaknya ini bukan waktu yang tepat untukku melakukan pengaduan pada ayah. Aku akan mencari waktu lain saja.

Entah karena yang ku pikirkan kali ini adalah Ardi dan segala hal yang telah ku temukan dikamarnya, dia tiba-tiba saja muncul di depan kamar dan langsung masuk.

“Ayah sudah pulang ya?” Ardi menyapa ayah.

“Iyah” jawab ayah sambil meneguk teh manis yang sudah dibuatkan ibu.

“Ada yang ingin aku tanyakan” Ardi langsung duduk disamping ayah.

“Kenapa?”

“Aku diberi handphone oleh temanku, tapi dalam kondisi rusak. Apa ayah bisa memperbaikinya?” Ardi meminta pertolongan pada ayah. Dulu ayah sempat bekerja ditempat service handphone.

“Coba aku lihat” ayah langsung meminta handphone itu dan mengecek kondisinya.

Ayah adalah seorang laki-laki yang serba bisa menurutku. Dia mempunyai banyak sekali pengalaman kerja diberbagai bidang. Seorang pembelajar yang cepat. Semuanya dia pelajari sendiri dan bisa dijadikannya sebagai sebuah pekerjaan. Tapi juga sepertinya dia adalah orang yang cepat bosan dengan suatu pekerjaan dan seringkali berganti tempat kerja.

“Ayah akan coba betulkan nanti.”

Ardi langsung pergi lagi setelah urusannya dengan ayah selesai. Hanya datang ketika ada perlunya saja. Ardi menuju kamarnya lagi diatas, semoga saja aku tidak meninggalkan jejak, jangan sampai Ardi tau kalau ada seseorang yang masuk ke kamarnya.

Lihat selengkapnya