Petak Kecil

Faldhy Dwi B.
Chapter #9

Ada Bagiannya #9

Semua kejadian kemarin benar-benar sangat kacau, mulai dari pertengkaranku dengan Rio hingga ayah yang sangat murka terhadap apa yang sudah dilakukan oleh Ardi. Aku merasa begitu iba padanya. Kenyataan yang ku temukan di kamar Ardi tidak lebih parah dari apa yang sudah aku dengarkan dari mulut ayah ataupun mulut Ardi dimalam itu. Suatu fakta yang membuatku bingung harus mempercayainya atau tidak.

Semenjak kejadian dimalam itu, ayah langsung meminta maaf atas semua perlakuannya pada Ardi. Mereka berdua tampak berpelukan walaupun sepertinya Ardi belum sepenuhnya memaafkan. Aku juga sempat melihat ayah kembali menghadap paman Asrul dan kembali memohon maaf kepadanya. Sebenarnya situasi panas waktu itu sudah mulai mereda, hanya saja ayah belum pulang lagi ke rumah. Sekarang sudah masuk hari kedua dan tidak ada yang tau tentang keberadaannya. Ibu masih terpukul dan terlihat selalu murung. Ardi sekarang sudah berada dikamarnya lagi, setelah semua lukanya diobati, hanya tinggal sedikit memar-memar saja dimukanya. Sekarang sosok ayah dimataku menjadi begitu menakutkan. Jika semua yang dikatakan Ardi adalah suatu kebenaran, maka aku aku menjadi pendukung utama untuk Ardi.

Karena kejadian itu juga, hukumanku sepertinya sudah tidak lagi dilanjutkan. Ibu malahan menyuruhku untuk bermain diluar rumah dan tidak lagi melarangku melakukan banyak hal.

“Acil, ayo kita main” Tommy sudah muncul di depan pintu kamarku.

“ke halaman Made kan? Kamu duluan saja. Nanti aku menyusul”

“oke. Sampai bertemu lagi disana”

Aku harus menjaga dulu Ian dan Inu sebelum pergi bermain. Ibu sedang mandi dan sudah menjadi tugasku untuk bergantian menjaga kedua adikku itu. Sebuah tugas yang menyebalkan untuk anak berusia 12 tahun sepertiku. Nanti setelah ibu selesai mandi, aku akan langsung pergi untuk bermain.

Sebelum berangkat aku rasanya perlu ke kamar mandi dulu. Air kencingku rasanya sudah sangat berada diujung.

Aku mendapati Ardi sudah berdiri tepat didepan pintu kamar mandi ketika aku keluar dari sana. Mukanya masih murung, aku tak berani menatap matanya langsung. Dengan rasa canggung, aku lewati tubuhnya sambil menundukkan kepala.

“ini semua gara-gara kamu” tiba-tiba saja Ardi berkata begitu.

“kenapa memangnya?” tanyaku bingung.

“keluarga kita tidak mempunyai cukup materi atau kasih sayang untuk dibagi-bagi. Kehadiranmu saja sudah merenggut bagianku, apalagi sekarang muncul Ian dan Inu”

“aku tak mengerti apa maksudmu”

“dengan pukulan ayah yang kemarin, kini aku sudah paham bahwa bagianku memang sudah habis. Direnggut olehmu, oleh Ian dan juga Inu” wajah Ardi yang tadinya murung berubah menjadi wajah yang menyuguhkan senyum lebar.

“tapi tenang saja. Cepat atau lambat bagianmu juga akan direnggut semuanya oleh Ian dan Inu. Kamu yang selanjutnya. Kita akan senasib” Ardi langsung masuk kamar mandi setelah selesai melakukan percakapan itu.

Aku yang tidak sepenuhnya mengerti maksud Ardi, masih terpaku di depan kamar mandi disebelah tangga.  Mengingat kata-kata ‘selanjutnya’ dan juga ‘senasib’, membuatku terbawa lagi pada perasaan khawatir ketika memikirkan siapa yang akan tidur diluar ketika adik baru kami lahir. Aku kembali pada ketakutanku itu lagi.

Sambil berjalan menuju halaman Made, otakku masih dipenuhi kata-kata dari Ardi. Percakapan itu pada akhirnya hanya merusak semangatku untuk bermain hari ini.

Lihat selengkapnya