Petak Kecil

Faldhy Dwi B.
Chapter #10

Save Griselda #10

Hari berkemahpun tiba. Kami berdelapan sudah siap dengan semua tugas yang diberikan ka Bumi. Dia meminta kami untuk sudah berkumpul dihalaman pada pukul 09.00, tapi karena kami begitu bersemangat, jam 8 pagi pun kami sudah berkumpul semuanya. Kami semua saling mentertawakan satu sama lain karena barang bawaan kami sangat banyak seperti hendak berkemah ke gunung. Padahal kami hanya menginap semalam saja di halaman ini.

Sudah jam 9 kurang lima menit dan akhirnya ka Bumi datang juga. Tanpa membawa banyak barang, dia muncul dengan sepedanya. Tak membutuhkan waktu untuk beristirahat, ka Bumi langsung meminta kami berkumpul sambil membawa barang bawaan masing-masing. Semua barang kami di cek dan diperiksa satu per satu, ka Bumi dibantu oleh teuteu Ratu untuk melakukan pengecekan. Disamping itu, ka Bumi juga memberikan beberapa aturan selama kegiatan berkemah berlangsung.

“pokonya selama berkemah, kalian tidak boleh menggunakan fasilitas rumah sedikitpun. Termasuk dapur dan juga kamar mandi. Jika memang terpaksa harus menggunakannya. Kalian harus menukarkan poin terlebih dahulu. Daftar poin yang harus kalian punya sudah kakak tempel di tembok rumah”

Ka Bumi memberikan aturan yang menarik. Bagi kami, semua itu terlihat seperti sebuah permainan yang menyenangkan. Ditembok rumah sudah tertempel daftarnya, dalam daftar itu tertulis “5 poin untuk menggunakan kamar mandi”, “5 poin untuk meminjam barang”, “10 poin untuk mendapatkan barang seperti lampu tidur, slepping bag, bantal dan lain-lain”.

“kalian bisa mendapatkan poin jika berhasil melakukan misi-misi yang sudah kakak siapkan sehingga nantinya poin itu bisa kalian pakai untuk mempermudah kalian sendiri. Seseorang yang memiliki poin paling tinggi akan kakak beri hadiah” kalimat penutup dari ka Bumi setelah menjelaskan semua aturan main nya.

Aku merasa dibawa oleh ka Bumi ke dalam situasi menegangkan namun juga sekaligus menyenangkan. Kita sebagai anak sepertinya memang memerlukan permainan-permainan seperti ini yang bisa membuat kita lebih kreatif lagi.

Poin pertama akan bisa kami dapatkan jika kami berhasil membangun tenda sendiri. Kami berdelapan membangun 2 buah tenda yang sudah disiapkan dihalaman. Petunjuknya sudah tertera dalam sebuah kertas dan kami tinggal mengikutinya saja. Aku merasa selama proses membangun tenda saja kami sudah bisa banyak berinteraksi satu sama lain, saling bekerjasama dan saling membantu. Sekali lagi aku sampaikan kalau kegiatan ini benar-benar menyenangkan.

...

Kami telah mendapatkan poin pertama dengan cukup mudah. Sekarang sudah ada 2 tenda yang terbangun dengan kokoh dan didalamnya sudah terisi penuh barang-barang kami. Setelah itu juga ka Bumi mengajak kami bermain permainan-permainan sederhana, seperti estafet air, menebak gambar, mengurai benah yang kusut dan banyak permainan lainnya. Setiap permainan bisa menghasilkan poin jika kami berhasil melewatinya.

Kali ini ka Bumi memberikan tugas yang paling menyulitkan untuk kami.

“kalian hanya punya waktu 2 jam sebelum hari menjadi gelap untuk menyelesaikan misi yang akan kakak berikan pada kalian. Nama permainannya adalah “Save Griselda’ “

Mendengarkan nama permainannya, kami semua langsung kaget. Nama itu tidak asing ditelinga kami. Aku sendiri berharap permainan itu tidak ada hubungannya dengan nama yang kami tau.

“tugasnya sederhana, setiap orang hanya perlu melakukan suatu kebaikan. Apapun itu. Dan kebaikannya harus dilakukan untuk nenek Griselda”

Ini adalah permainan paling buruk diantara semua permainan yang sudah kami mainkan sebelumnya.

“nenek Griselda yang itu ka? Tanya Alvin

“iyah. Kalian kenal kan?”

“ini hal yang mustahil ka” keluhan pertama muncul dari Niki

“iyah. Untuk masuk ke area rumahnya saja sudah tidak memungkinkan ka” tambah Julia

“kita hanya akan dimakan hidup-hidup jika berani mendekat” Tommy yang suka berpetualang pun sedikit ciut dengan misi tersebut.

“ya terserah. Tapi misi ini punya poin yang paling besar diantara permainan yang lain. Kalau ada yang berani melakukannya, kalian bisa mudah untuk jadi juara” ka Bumi tetap bersikukuh dengan misi nya itu.

Kami semua akhirnya saling memandang satu sama lain. Kami tau kalau ini sulit sekali dilakukan. Nenek Griselda adalah salah satu tetangga kami. Rumahnya tidak jauh dari halaman Made, tepatnya ada diujung gang dekat dengan jalan besar. Ia adalah seorang nenek berumur 70 tahunan. Namanya terdengar seperti orang asing karena kata orang dia itu ada keturunan darah Belanda. Menurut cerita, Orangtuanya itu adalah tentara Belanda yang jatuh cinta pada wanita pribumi. Hubungan penjajah dan pribumi itu akhirnya melahirkan anak yang diberi nama Griselda. Dari fisiknya juga sangat jelas kalau ia bukan sepenuhnya keturunan indonesia. Rambutnya pirang, kulitnya sangat putih dengan bintik-bintik coklat yang banyak tersebar di muka dan tangannya. Tubuhnya juga tinggi untuk seorang perempuan berumur.  

Kami merasa misi ini sangat mustahil karena nenek Griselda dikenal sangat galak sekali. Terutama bagi kami para anak-anak. Ia selalu saja memarahi anak-anak yang bermain disekitar rumahnya. Tak jarang juga keluar makian-makian, bahkan sesekali keluar bahasa yang tidak kami mengerti, seperti bahasa asing. Mungkin bahasa Belanda. Kalau sampai ada mainan kami yang masuk ke area rumahnya, seperti bola atau layang-layang, maka anak-anak sudah pasti akan mengikhlaskannya.

Pernah sekali waktu ada yang menyelinap untuk mengambil layangan, anak itu memanjang pagar dan hendak mengambil layangan tersebut karena tersangkut di genteng. Tak lama kemudian nenek Griselda keluar rumah dan anak itu pun habis dimaki-maki. Tempat itu bukanlah tempat yang bisa dikunjungi dengan seenaknya.

“kalian ada yang berani?” putri, gadis tertua diantara kami memulai obrolan.

“aku akan menyerah saja” kata Alvin

“setuju” sambut Robin

“iyaah. Kalaupun kita tidak menyelesaikan misi ini, kita juga tidak akan mendapat hukuman kan” Julia juga ikut berdiskusi.

“Lagi pula kita berkemah untuk bersenang-senang kan. Bukan untuk kena marah nenek Griselda” Niki memberikan pendapat lain.

Aku sebenarnya tidak pernah tau seperti apa nenek Griselda ketika mengamuk. Aku hanya mendengarnya dari cerita anak-anak sini. Aku hanya pernah melihatnya sekali ketika sedang menyiram tanaman dan ia tampak seperti nenek-nenek pada umumnya. Walaupun dia seseram itu, aku sudah pernah berhadapan pada sosok yang lebih menyeramkan .

“sepertinya aku masih ingin mencoba” aku tidak berani. Tapi aku penasaran.

“Kau sudah gila ya?” ada Mia yang mempertanyakan tentang tekadku itu.

“Kalau ada yang berani, aku mau menemaninya” tanpa diduga putri juga mau untuk mencobanya.

“seriusan?”niki merasa sanksi.

“iyah. Kita coba saja. Ka Bumi kan hanya menyuruh kita untuk berbuat baik padanya saja bukan malah mengajaknya perang” pernyataan putri sangat masuk di akal.

Lihat selengkapnya