Petak Kecil

Faldhy Dwi B.
Chapter #12

Menerobos Lubang #12

Aku sudah kembali lagi pada rutinitasku sehari-hari, menjaga Inu dan menemani Ian bermain. Terus saja seperti itu. Aku bersyukur karna sekarang aku sudah mempunyai teman-teman yang mau mendukung dan juga mau membantuku. Walaupun musuh-musuh terdahulu tidak lantas menghilang, setidaknya aku sudah mempunyai keberanianku lagi untuk melawan, dan semua itu berkas teman-temanku juga.

Hanya saja, kemajuanku di lingkungan pertemnan malah membuatku semakin tidak betah dirumah. Aku tidak merasakan kehangatan yang sama seperti yang aku dapatkan jika bersama teman-temanku. Oleh karenanya, aku malah semakin menjauh dari keluargaku.

Kemarin ayah baru saja pulang, kalau tidak salah dengar ayah tidak pulang beberapa hari kebelakang karena harus mencari pekerjaan bari. Sekarang dia sedang ikut bekerja diproyek pembuatan jalan sehingga memilih untuk tidak pulang karena lokasi kerjaan nya yang cukup jauh. Ayah hanya menghabiskan waktunya dirumah untuk tidur. Sekalinya dia terbangun, dia hanya akan bermain bersama Ian dan Inu.

Keberadaanku dirumah mulai tergeser dan tampaknya akan menghilang juga seperti hal nya Ardi. Aku masih takut dengan itu tapi tak setakut sebelumnya. Mungkin Ardi merasa bagiannya telah habis, tapi aku masih punya bagian lain yang kudapatkan dari teman-temanku, itu sedikitnya membuatku kuat. Walaupun dalam situasi tertentu, teman-temanku tidak selalu ada.

Tommy dan keluarganya sedang menghabiskan masa libur sekolah di kota kelahiran paman Acep. Putri juga sedang tidak ada dirumah karena sedang tinggal di rumah ayahnya. Bahkan Made juga sedang pegi ke luar kota bertemu dengan sahabat-sahabatnya terdahulu. Kini lingkungan rumahku benar-benar sepi dan aku cukup merasa kehilangan.

“ibu dan ayah mau pergi dulu kerumah saudara ya. Kamu diam dirumah sama Ardi” ibu sedang bersiap untuk pergi.

“berapa lama” tanyaku

“sebentar, paling nanti sore juga pulang”

“tidak bolehkah kalau aku ikut saja?”

“motornya tidak akan cukup. Ayah dan ibu harus membawa Ian dan juga Inu. Sudah tidak ada lagi tempat untukmu”

“sudahlah jangan rewel. Kamu dirumah saja. Kamu kan sudah besar. Bisa menjaga dirimu sendiri” ayah malah memarahiku karena aku meminta untuk ikut.

Mereka semua akhirnya pergi. Sekarang aku hanya tinggal sendiri saja di kamar. Tak lama berselang, Ardi turun dari kamarnya dan menghampiriku di kamar bawah.

“ayah dan ibu kemana?”

“pergi ke rumah saudara katanya”

“oh, kamu tidak ikut?”

“Motornya tidak cukup”

“hm, kau sudah mulai disisihkan ya?” Ardi terlihat sinis.

“entahlah” aku tak mau meladeni perkataan Ardi.

Dia masuk ke kamar dan ikut tiduran disana. Kami hanya diam saja tak lenjut mengobrol. Dia membawa beberapa batang rokok dan menghisapnya di dalam ruangan. Ardi juga mengambil beberapa sachet kopi dan mie rebus yang berada di rak masak ibu.

“kenapa kau mencuri?”

“kopi dan mie rebus ini maksudmu?”

“bukan, kasus pencurianmu waktu itu, handphone dan seluruh barang di dus sepatu yang ada dikamarmu”

Lihat selengkapnya