Petak Kecil

Faldhy Dwi B.
Chapter #13

Cara yang Tepat #13

Ayah dan ibu sudah pulang pagi tadi. Aku sungguh marah pada mereka berdua. Mereka kembali ke rumah tanpa perasaan bersalah sama sekali. Seperti tidak terjadi apa-apa dan anak yang ditinggalkan dirumah sendirian juga dalam kondisi baik-baik saja. Bahkan aku yang melakukan usaha protes dengan berdiam diri tanpa menyapa mereka pun tidak dianggap sama sekali. Malahan baru juga mereka melihatku, mereka langsung menyuruhku untuk membelikan sesuatu.

Dengan hati yang kesal, mau tak mau aku tetap harus menuruti mereka. Aku berjalan menuju warung untuk membelikan rokok ayah. Katika sedang berjalan, aku bertemu dengan ka Bumi yang baru datang menggunakan sepeda. Entah kenapa aku malah kaget melihatnya, seakan-akan aku seperti mempunyai kesalahan yang sangat besar kepadanya. Jelas semua perasaan ini disebabkan oleh tingkahku semalam, itu adalah kesalahan terbesarku.

Ka Bumi hanya melewatiku begitu saja. Aku sekarang makin khawatir, semalam aku tidak bertimbang kalau ka Bumi setiap pagi akan datang ke halaman dan mengurusi kebunnya. Semua yang aku lakukan semalam bisa saja dengan mudah ketahuan olehnya. Dia hafal betul setiap perubahan yang ada di kebunnya.

Dengan bersegera aku kembali ke rumah dan menyerahkan rokok kepada ayah. Aku juga langsung berdiam didekat jendela memandangi bekas-bekas ulahku yang semalam. Aku tak berani keluar kamar apalagi harus ke halaman Made. Sekarang aku sudah seperti buronan saja.

“Acil, kamu tau Ardi kemana?” ibu bertanya padaku.

“aku tak tau bu” fokusku masih saja memandang keluar jendela.

“tapi tadi malam dia ada dirumah kan?”

“iyah. Dia sempat keluar rumah tadi malam. Tapi pagi ini aku belum melihatnya lagi”

Aku sampe tidak sadar kalau semalaman Ardi tidak pulang juga. Tapi itu sudah tidak aneh. Yang paling penting sekarang adalah jangan sampai apa yang aku lakukan semalam ketahuan oleh ka Bumi.

Aku mendengar suara-suara gaduh dari luar pintu kamar. Aku tau siapa yang datang itu.

“hai Tommy” aku langsung menyapanya berharap bisa mendapatkan bantuan.

Tapi ketika aku keluar kamar, kudapati Tommy sedang dengan seseorang. Kakaknya, Billy sedang ada dirumah ini.

“hai cil, apa kabar? Sekarang kamu tinggal disini ya?” malah Billy yang merespon sapaanku pada Tommy.

“iyah. Belum lama ini” jawabku

“kakakmu kemana? Aku sudah lama tidak bertemu dengannya”

“aku tidak tahu”

“hm gitu. Salam kan saja kalau begitu. Aku tidak akan lama disini. Takutnya nanti kita tidak sempat bertemu” nada suara Billy terkesan meledek.

Aku lebih memilih kembali ke kamarku lagi saja. Semenjak Ardi menceritakan semuanya, kesanku terhadap Billy menjadi sangat negatif. Aku tak suka menemuinya.

Lihat selengkapnya