Petak Kecil

Faldhy Dwi B.
Chapter #14

Semua bisa diperbaiki #14

Aku berangkat dengan ka Bumi dan juga teuteu Ratu menggunakan taxi online. Sepanjang jalan teuteu Ratu terus menerus menenangkanku. Dia sadar kalau aku sedang dalam kondisi serba bingung. Ka Bumi juga terus mendukungku dengan bersikap selalu cekatan. Aku beruntung memiliki mereka berdua.

Kita sampai didepan rumah sakit, kita langsung turun dari mobil dan ka Bumi memimpin kita untuk menemukan tempat Ardi berada. Sesampainya diruangan, Ardi ternyata tidak bisa ditemui sembarang orang. Dia dijaga oleh polisi, bagaimanapun juga ini merupakan suatu kasus kriminal. Ada ayah, ibu dan kedua pamanku di sana.

Aku melihat ayah sedang marah-marah dihadapan polisi. Dari pembicaraannya, ia tidak terima anaknya dijadikan bulan-bulanan oleh warga-warga.

“ini sebuah kesalahan. Mana mungkin anakku melakukan hal itu. Aku sudah mendidiknya untuk tidak berbuat kriminal. Yang harus disalahkan adalah warga-warga yang seenaknya saja memukuli anakku. Ini tidak benar, ini adalah sebuah kesalahan” ayah terus saja emngeluarkan amarahnya. Seisi rumah sakit tampaknya bisa mendengarkan ayah berteriak.

Disudut yang lain, ibu hanya terduduk lemas. Kali ini ibu benar-benar tidak memiliki energi untuk berkata apapun. Bahkan ketika aku menghampirinya, ibu seakan-akan tidak sadar akan kehadiranku.

Tingkah ayah malah menghasilkan suatu keributan baru. Paman Acep dan Paman Asrul akhirnya menyeret ayah ke tempat yang lebih aman lagi. Ka Bumi juga ikut menenangkan karena energi ayah begitu besar sehingga 2 orang saja tak cukup untuk menahannya.

Sekarang ibu sedang ditemani olehku dan juga teuteu Ratu.

Teuteu Ratu mencoba mengajak ibu berbicara serta menenangkannya juga. Ibu diberi air minum, dan juga makanan ringan namun dirinya tetap saja menolak.

“Cil, kita bawa ibu keluar juga saja ya” kata teuteu Ratu.

Aku mengangguk saja menurutinya. Kami berdua memapah ibu untuk ikut keluar bersama kami. Diluar sudah ada ka Bumi, Ayah dan juga kedua pamanku.

Sepertinya ayah sudah mulai tenang. Disampingnya terlihat paman acep dan juga paman asrul yang sudah kelelahan.

“Semua nya jadi berantakan seperti ini” ayah mulai berbicara lagi namun kali ini sambil menangis.

Dia menangis seperti seorang anak kecil yang rewel meminta mainan ke orang tuanya.

“aku sudah berusaha keras untuk semua anak-anakku. Aku juga sudah membanting tulang agar semua kebutuhan keluarga tercukupi. Tidak jarang aku harus mengesampingkan harga diriku agar keluargaku bisa makan” tangisan ayah semakin kencang.

“orang tua mana yang tidak terpukul ketika melakukan sebuah pencurian. Aku sangat menyesal ketika itu memukuli Ardi. Aku memukulinya karna malu pada diriku sendiri. Malu karna aku tidak bisa mendidiknya dengan benar. Apalagi ketika dia mengatakan kalau darah pencurinya itu diturunkan dari kami ayah dan ibunya yang pernah mencuri juga. Biarkan saja kami yang mencuri untuk kepentingan keluarga, biarkan saja kami yang dicaci maki, biarkan saja kami yang dibilang penjahat, tapi jangan sampai anak kami yang justru mencontoh tingkah laku ayahnya”

Ayah terus saja mengoceh sambil menarik baju pamanku dan sesekali juga dia pukul karna saking marahnya. Paman Acep atau paman Asrul pun tidak bisa berbuat banyak.

Semua yang dikatakan ayah seperti pukulan lagi bagiku. Aku tak sepenuhnya mengerti. Tapi tangisan itu baru kali ini kulihat keluar begitu deras dari mata ayah. Ayah yang ku kenal hanyalah ayah yang jarang pulang, tidak pernah bermain dengan anaknya, dan seorang ayah yang bisanya hanya marah-marah saja. Tetapi setelah melihat tangisannya itu. Aku tau bahwa setiap anggota di keluargaku punya rasa sakitnya masing-masing. Ayah melakukan banyak hal yang kita anggap salah tapi sebenarnya untuk kepentingan keluarga juga.

Hari ini hatiku benar-benar hancur. Ardi yang belum sadarkan diri, serta Ayah dan ibu yang begitu terpukul.

 

...

Lihat selengkapnya