Di sisi kota, terbentang kawasan Kampung Bantaran — pemukiman padat yang berkesan kumuh.
Rumah-rumah berdempetan rapat tanpa jarak yang jelas; ada yang berdinding tembok sederhana, namun banyak juga yang masih berupa bedeng dari papan dan bambu, semuanya bercampur menjadi satu. Jalanan sempit berdebu saat musim kemarau, dan segera berubah menjadi becek berlumpur saat hujan turun, sementara aliran selokan keruh terlihat mengalir di samping rumah-rumah itu.
Tepat di sisi jalan raya yang menjadi pintu masuk menuju Kampung Bantaran, berdiri sebuah warung sederhana yang buka dua puluh empat jam. Tempat itu menjadi tempat berkumpul utama para preman dan warga lingkungan.
Warung itu milik Bang Codet, mantan preman yang namanya dulu sangat disegani di seluruh kawasan ini. Sekujur tubuhnya tertutup tato, berperawakan cukup kekar, dan tatapannya tetap tajam meski kini sudah memilih hidup lebih tenang.
Ia tinggal bersama istri dan kedua anaknya; istrinya yang sabar membantu mengurus warung sehari-hari, sedangkan Bang Codet menjalankan usahanya dengan aturan tegas agar tidak ada keributan yang mengganggu ketenangan keluarga dan warga sekitar.
Setiap satu atau dua minggu sekali, di tempat-tempat lapang di sepanjang bantaran sungai dan perkampungan di dalamnya, selalu diadakan pertarungan jalanan.
Agar tidak berubah menjadi keributan besar atau tawuran, setiap petarung yang bertanding diwakili oleh ketua dari masing-masing kelompok.
Pertarungan berlangsung di dalam lingkaran yang digambar di atas tanah; peraturannya jelas dan sederhana: siapa yang sampai melangkah keluar dari batas lingkaran, atau mengangkat tangan sebagai tanda menyerah lebih dulu, maka dinyatakan kalah.
Seorang wasit ditugaskan mengawasi jalannya pertarungan, menegakkan aturan, dan menentukan siapa yang keluar sebagai pemenang.
Di sinilah perjalanan Zhen Gio, pemuda berusia 26 tahun, dimulai. Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, ia harus hidup sendirian tanpa sanak saudara yang bisa diandalkan.
Zhen Gio terjun ke dunia pertarungan bukan karena gemar berkelahi, melainkan itu satu-satunya cara baginya untuk mencari nafkah. Setiap kali ia menang, hasilnya cukup lumayan untuk memenuhi kebutuhan makan dan hidupnya selama dua hingga tiga bulan ke depan.
Namun ia tidak menghabiskan seluruh uang itu begitu saja — selalu menyisihkan dan menabung sebagian hasil kemenangannya sedikit demi sedikit, demi mewujudkan cita-cita yang sudah lama ia pendam: memiliki sebuah kedai kopi sendiri, tempat yang bisa ia nikmati dan kelola dengan tenang di masa tuanya nanti.
Malam demi malam ia melangkah masuk ke dalam lingkaran pertarungan, menahan rasa sakit dan mempertaruhkan tenaganya, semata-mata demi bertahan hidup hari ini dan merangkai masa depan yang lebih baik.
Berbeda jauh dari kesemrawutan Kampung Bantaran, dan tidak terlalu jauh jaraknya — hanya terpisah oleh beberapa ruas jalan raya — berdiri sebuah bangunan megah berlantai tiga.
Itulah kediaman keluarga Darius Arko (57 tahun), seorang konglomerat kaya raya yang namanya disegani di dunia bisnis. Rumah itu terletak di kawasan elit yang tertata rapi, dikelilingi pagar tinggi, taman luas dengan pepohonan rindang, serta pencahayaan yang terang benderang; sangat kontras dengan suasana gelap dan kumuh di sisi lain kota.
Malam itu, suasana di dalam rumah mewah itu terasa tenang namun penuh wibawa. Di ruang tengah yang luas dengan perabotan mewah, Bu Lucia Maren (53 tahun), sang ibu, sudah duduk menunggu dengan sabar.
Sementara itu, Valerio Maxim (33 tahun), sang kakak sulung, jarang sekali pulang lebih awal atau berkumpul di jam-jam seperti ini. Ia lebih sering menghabiskan waktunya di luar rumah untuk bersenang-senang dan menghamburkan harta, sehingga kehadirannya di tengah keluarga terasa sangat jarang.