Kallista duduk di sisi tempat tidur. Mau tidak mau, ia harus menuruti keinginan ibunya. Sudah lama ia merasa lelah mendengar desakan dan pertanyaan yang sama berulang-ulang, yang tak pernah lepas dari pembahasan soal jodoh dan kapan ia akan menikah. Demi menghentikan desakan itu sejenak, akhirnya ia mengambil ponselnya, mencari nama Ardi Hidayat di daftar kontak, lalu mengirim pesan lewat percakapan daring:
“Halo Ardi, bagaimana kabarmu? Mama nyuruh aku buat nanyain kamu.”
Setelah pesan terkirim, Kallista meletakkan kembali ponselnya. Ia hanya berharap tindakan ini cukup untuk membuat ibunya berhenti mendesak untuk sementara waktu, meski di dalam hatinya tak ada harapan lebih dari sekadar memenuhi permintaan itu.
Tidak selang lama setelah pesan itu terkirim, layar ponsel Kallista tiba-tiba menyala. Nama Ardi Hidayat tertera jelas sebagai penelepon, disertai nada dering yang terdengar pelan di dalam kamar.
Kallista sedikit terkejut; ia tidak menyangka nomor kontak Ardi masih aktif dan akan langsung menelepon begitu cepat. Dengan perasaan yang masih agak canggung, ia meraih ponsel itu, menarik napas sebentar, lalu menggeser tombol terima panggilan.
"Halo Kallista cantik, alhamdulillah kabarku baik. Bagaimana kabar kamu?" sapa Ardi di telepon lalu bertanya.
"Alhamdulillah kabarku juga baik. Kamu jangan kepedean dulu, karena bukan aku yang menanyakan kabar kamu, tapi Mama yang menyuruhnya," jelas Kallista agar Ardi tidak salah paham.
"O-ow, tidak apa-apa. Mau kamu atau Mama kamu, bagiku itu tetap sama saja, suatu kehormatan bagiku sudah ditanyai kabar. Sekarang kamu masih di kantor atau sudah di rumah?" tanya Ardi sumringah dengan suara penuh semangat.
"Aku lagi di kamar, baru pulang dari kantor. Ya sudah, aku tutup teleponnya ya, aku cuma disuruh Mama menanyakan kabar kamu doang," jawab Kallista.
"Eit, tunggu sebentar dong, jangan ditutup dulu. Sekarang kan baru jam delapan, masih sore. Gimana kalau sekarang aku ke rumah kamu?" pinta Ardi.
"Aku baru pulang kerja, aku lelah, aku mau istirahat. Aku tutup teleponnya!" Kallista langsung mematikan panggilan itu.
Kallista diam termenung. Meskipun Ardi masih ada kabarnya, hal itu tidak sedikit pun bisa mengubah perasaan dalam hatinya. Ia meletakkan ponsel di atas meja lampu, lalu berdiri dan melangkah menuju kamar mandi yang terhubung dengan kamarnya. Ia membuka pintunya, melangkah masuk, dan menutupnya kembali rapat-rapat.