Luna berusaha mencegah Peter untuk tidak kembali ke tempat sebelumnya.
“Meski begitu, aku harus kembali untuk memungut semua bahan makananku tadi,” ujar Peter.
“Itu bukan ide yang bagus, hei kurcaci Muda!” Dengan tegas Luna mencegah Peter pergi.
“Kenapa? Berhenti memedulikanku, biasanya tidak ada makhluk satu pun di sini yang peduli terhadapku,” ucap Peter lalu enyah dari pandangan Luna.
“Kenapa begitu? Baru kali ini aku bertemu kurcaci yang bodoh, bahkan tidak peduli dengan nyawanya sendiri.” Luna melipat tangan sambil menatap tajam Peter.
“Hei, jangan panggil aku bodoh.” Peter menoleh ke arah Luna.
“Kalau begitu, ikuti kata-kataku tadi dan jangan membantah!” ucap Luna dengan tegas, separuh bibirnya terangkat.
Peter terbungkam dengan kata-kata itu. Sikap Luna terhadapnya bukan pandangan kebencian, melainkan tanda kepedulian.
“Baik, lantas apa yang harus aku makan siang ini jika kau tetap bersikeras melarangku pergi?” tanya Peter.
“Baiklah, baiklah. Aku paham. Aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku padamu.” Luna sedikit mengembangkan sayapnya. “Ikutlah denganku, akan kuberikan bahan makanan yang jauh lebih enak dari pada yang kau pungut tadi.”
Karena Luna menjanjikan itu, maka Peter pun mengikutinya tanpa bantahan apa pun.
“Siapa namamu?” tanya Luna yang terbang pelan, mengimbangi cara berjalan Peter.
“Peter, Peter Mint,” jawab Peter.
“Namaku Luna, aku peri kuning yang terlahir dari bunga matahari,” sahut Luna, memperkenalkan diri.
Setelah berjalan melewati lereng gunung, Luna mengajak Peter pada sebuah tumpukan batang pohon Ek besar. Itu adalah rumah si peri Luna dan beberapa peri kuning lainnya.
Peter hanya menunggu di balik pepohonan sambil melipat tangan, selagi Luna mengambilkan beberapa bahan makanan untuk diberikan kepadanya.
“Ini, bawalah. Pasti suka,” sahut Luna.
“Terima kasih.” sahut Peter menerima pemberian dari Luna.
Setelah itu Peter segera pulang, untuk membawakan bahan makanan itu kepada Lindan.
“Paman, aku pulang,” sapanya.
“Oh, kau sudah pulang, Peter. Apa saja yang kau bawa siang ini?” tanya Lindan.
“Hanya sekantung ini saja, Paman. Maaf.” Peter memberikan kantung makanan yang diberikan oleh Luna tadi pada Lindan.
“Apa yang terjadi?”