Ini adalah kisah Luna—sekitar dua belas tahun yang lalu—saat si peri kuning lahir. Di antara bunga-bunga yang bermekaran, setangkai bunga matahari yang ada di selatan mekar paling akhir dan waktunya hanya sekitar lima menit sebelum daun mint merekah.
Beberapa peri dewasa segera membawa peri yang paling terakhir itu ke tempat khusus para bayi peri. Kala itu bayi peri hanyalah seukuran telapak tangan peri dewasa. Mereka bergembira saat melihat bayi peri kuning yang terlahir saat senja itu.
“Akan kau beri nama apa bayi ini, Elle?” tanya Miriem.
“Aku ingin menamakan bayi peri ini,” kata Elle. “Luna.”
“Luna? Wah nama yang bagus, Elle,” sahut Miriem.
Lantas, mereka berdua segera mengantarkan bayi Luna ke tempat mereka tinggal. Ya, mereka adalah Peri-Peri yang mengurus para bayi peri. Selain Elle dan Miriem, ada juga beberapa peri lain yang ikut membantu menjalankan tugas mulia ini.
Malam itu mereka benar-benar sibuk mengurus bayi-bayi yang lucu dan menggemaskan itu. Terhitung ada sekitar 130 bayi peri yang terlahir, lalu bagaimana cara mereka menyelesaikan tugas dengan menangani begitu banyak dengan cepat? Tentu saja dengan keahlian mantra sihir mereka.
Peri dewasa tentu sudah mahir menggunakan mantra untuk membantu lebih cepat dalam mengerjakan tugas mereka. Bayi peri yang hanya seukuran telapak tangan peri dewasa akan bertumbuh seiring bertambah usianya.
Bukan hanya itu saja, bagi peri dewasa mereka memiliki suatu keterampilan khusus. Mampu menyusutkan diri mereka sekecil apa pun atau memperbesar ukuran mereka seperti makhluk lain, seperti ukuran normal manusia atau kurcaci pada umumnya.
Ketika Luna berusia lima tahun, dirinya sedikit terlambat dalam pelajaran terbang. Peri-Peri lain seumurannya sudah mulai memberanikan diri mengepakkan sayap dan berusaha terbang meski tabrak sana tabrak sini. Akan tetapi, Luna masih agak begitu takut untuk mencoba mengepakkan sayapnya.
“Ayo, Luna. Berusahalah Gadis Manis, kepakkan sayapmu,” sahut Miriem saat melatih Luna untuk belajar terbang.
Luna hanya menatap Miriem dengan kebingungan. Karena merasa tertekan dia mengepalkan kedua tangan dan memejamkan matanya begitu keras. Luna sedang berusaha membuat sayapnya bergerak agar bisa terbang.
“Unggggg!!” Luna berjuang sekuat tenaga agar sayapnya bisa bergerak.
Wajahnya sedikit memerah saat berusaha keras untuk mengepakkan sayap. Tubuhnya sedikit bergetar karena sedikit memaksa. Elle dan Miriem hanya saling menatap melihat Luna yang masih kesulitan untuk menggerakkan sayapnya itu.