Peter Mint ~Miracle of Evolution~

R.J. Agathias
Chapter #17

Pemberontakan (Part 04)

Mereka bertiga tengah melewati sebuah rawa dan medannya cukup sulit dilalui. Banyak pohon rambat yang menghalangi selama si perjalanan. Maka, Peter dan Vyar berjalan di depan untuk membuka jalan, memotong tanaman-tanaman tersebut menggunakan pedang.

Jauh dari tempat Peter dan dua kawannya, Yura juga berada di tempat rawa yang sama. Hanya lokasi mereka saja yang berbeda. Di sini Yura tengah menjadi mata-mata, lebih tepatnya memperhatikan The Wizard yang hendak kembali ke negeri para penyihir.

Sejak dia meninggalkan Peter dan Luna di negeri para manusia, dia berniat hendak kembali. Akan tetapi, niat itu diurungkan setelah melihat sesosok dari ras The Wizard berkeliaran saat dalam perjalanan pulang. Ada suatu kejadian saat melewati mayat Shadow Elf yang mati tertancap panah pada waktu itu, Yura menerima buku berwarna ungu pekat dari mayat tersebut.

Setelah menerima buku itu yang ternyata merupakan grimoire, dia memungutnya. Setelah itu karena penasaran akhirnya dia membuntuti orang tersebut untuk mengetahui di mana lokasi sesungguhnya negeri para penyihir itu.

Saat ini, Yura masih membuntuti penyihir itu dengan jarak sejauh dua puluh meter agar dirinya tidak disadari oleh penyihir tersebut.

Penyihir itu masih melanjutkan perjalanan dengan santai tanpa menyadari kalau ada yang membuntutinya, bagi Yura ini adalah kesempatan yang langka.

Tidak jauh dari lokasi Yura memata-matai, terlihat juga kelompok Peter yang masih tengah sibuk melintasi rawa yang cukup sunyi itu. Tanaman merambat dan pohon-pohon besar adalah rintangan yang menghambat perjalanan mereka.

“Kita harus segera keluar dari rawa ini,” ucap Vyar yang masih sibuk memotong-motong tanaman yang menghalangi jalan mereka.

“Kupikir itu mustahil, kita akan bermalam di tempat ini sementara.” Luna memperhitungkan kemungkinan.

Wajar Luna berpikir seperti itu, karena kenyataannya medan sangat sulit ditempuh dan hari sudah mulai gelap.

Mereka bertiga segera mencari tanah yang agak luas dan tidak basah. Karena sebagian besar rawa terendam oleh air yang mengalir dari hulu sungai juga ditambah dari air yang keluar dari dalam tanah.

Sementara itu, Yura masih menyembunyikan dirinya dengan duduk di atas batang batang pohon yang tertutup oleh daun yang rindang. Seraya memusatkan pandangan matanya pada penyihir yang tengah beristirahat itu. Apalagi karena waktu hampir gelap, baik penyihir dan Yura akan sama-sama beristirahat lalu melanjutkan perjalanannya besok setelah dunia terang kembali.

Kembali pada mereka bertiga yang masih mencari tempat agak kering untuk mendirikan tenda.

“Kita kesulitan mencari tempat yang kering, Luna.” Peter menggerutu karena tempat yang dicari tidak kunjung ditemukan.

Mereka masih terlihat menyapu ke arah sekeliling, cahaya sudah mulai redup termakan oleh pepohonan yang rindang. Cahaya senja sudah tidak mampu lagi menyinari kedalaman rawa-rawa ini. Sementara itu, mereka masih sibuk mencari tempat kering, saat menyusuri sebuah pohon besar akhirnya Luna mempunyai ide.

Luna melihat sepetak tanah lapang di ujung rawa. Letaknya agak tinggi sehingga air rawa tidak sampai ke sana. Ada sebatang pohon besar yang menaunginya. Dia pun memutuskan untuk mendirikan tenda di sana.

“Lihat, pohon ini cukup besar batang akarnya. Kita akan diam di sana karena tempatnya kering. Bisa untuk mendirikan tenda juga,” tunjuk Luna.

“Baiklah, karena kakiku sudah mulai terasa pegal,” gerutu Peter.

“Kau ini, memang masih bocah rupanya.” Vyar tersenyum melihat kelakuan Peter.

“Aku memang masih bocah konyol,” kelakar Peter sambil berayun-ayun pelan pada cabang pohon dan cengirannya yang khas.

“Peter, mau sampai kapan kau bertingkah seperti itu terus?” tanya Luna yang masih sibuk mendirikan tenda.

“Biar kubantu,” tawar Vyar.

Lihat selengkapnya