Hari itu mereka semua diberikan tempat tinggal oleh para petinggi The Wizard setelah melalui seleksi yang sangat ketat. Terutama kepada Vyar, karena dia hanyalah manusia biasa. Setelah melewati serangkaian tanya jawab yang begitu rumit, akhirnya Vyar bisa lolos seleksi.
Peter dan Luna masih menunggu serta harap-harap cemas tentang Vyar saat itu. Mereka bersyukur ketika Vyar muncul dari bangunan besar seperti kastil, tempat para petinggi itu bertugas.
“Lama sekali sesi tanya jawabnya,” kata Vyar ketika baru saja keluar dari bangunan tersebut.
“Kau lolos seleksi ‘kan?” tanya Luna penasaran.
“Iya, aku lolos dan dinyatakan aman. Tenang saja,” ucap Vyar tersenyum lebar.
Ketika giliran Yura, Luna lebih memilih tidak menunggu dan tidak peduli apa yang akan dilakukannya nanti. Bahkan mengajak Peter dan Vyar untuk segera menuju rumah tempat mereka tinggal.
“Lalu, bagaimana dengan Yura? Apa kau akan meninggalkannya begitu saja?” tanya Peter.
“Dia biarkan saja, aku tidak peduli kepadanya. Ayo, aku sudah penasaran seperti apa rumah tempat kita tinggal,” ajak Luna.
Vyar mengangkat bahu sambil menatap Peter.
“Kurasa ada baiknya kita menurutinya saja.” Cengiran khas Peter muncul lagi sambil mengajak Vyar untuk mengikuti Luna.
Vyar dan Peter pun segera menyusul Luna yang telah pergi lebih dulu. Mereka bertiga pun akhirnya tiba di kediaman mereka.
“Lumayan besar, cukup untuk kita bertiga,” ucap Luna.
“Tunggu, aku rasa kita akan berempat, lihatlah ke belakang.” Vyar mencolek bahu Luna.
Luna menoleh ke belakang, dia terkejut melihat Yura sudah ada di belakang mereka. Bagaimana Yura bisa secepat itu lolos seleksi yang sangat ketat.
“Bagaimana bisa kau secepat itu lolos dari seleksi?” tanya Luna dengan memicingkan matanya.