“Kau yakin dengan impian dan tujuan besarmu itu, Peter?” tanya Wolja ketika dalam perjalanan.
“Sangat yakin, Tuan Wolja. Entah kenapa aku merasa inilah tujuan baruku, setelah mendapatkan kembali identitasku sebagai kurcaci,” jawab Peter dengan yakin.
Kala itu mereka berlima tengah melintasi hutan kecil, perlu diketahui perjalanan mereka ke negeri hewan buas bertepatan dengan jalur menuju kastil Xabran.
“Semua, berkumpul.” Wolja memerintahkan mereka berkumpul.
Tanpa membantah, mereka semua berkumpul dan duduk pada rerumputan kecil di pinggir area lapangan yang sangat luas.
“Luna, keluarkan peta itu sekarang,” ucapnya.
“Baiklah,” sahut Luna, lalu mengeluarkan gulungan peta dari kantung yang menyimpan segalanya.
Wolja pun membentangkan peta yang cukup besar itu. Dia menjentikkan jari telunjuknya tepat pada satu lokasi yaitu lokasi mereka saat ini.
“Kita berada di area Grass Hilltop, lapangan luas ini sebenarnya dikelilingi beberapa bukit. Hanya saja lahan ini kosong. Para petualang biasanya sering melewati jalur ini,” jelas Wolja.
Mereka semua menganggukkan kepalanya, kemudian melihat kembali jari telunjuk Wolja meluncur ke wilayah lain. Wilayah yang ditunjuk adalah area Rocksand atau lebih dikenal dengan area batu berpasir.
“Area batu berpasir ini adalah halangan terbesar kita. Sebuah area cukup tandus dan sangat luas. Kita perlu persediaan makanan dan air sebanyak yang bisa kita bawa, ini penting.” Wolja memperingatkan.
“Baiklah, mungkin butuh empat hari perjalanan dari sini menuju area itu. Selama dalam perjalanan, kumpulkan beberapa bekal atau air yang bisa kita dapatkan. Kita bisa mengumpulkan makanan dan buah-buahan di hutan kecil ini,” kata Yura sambil menunjuk area hutan yang disebut Small Forest.
“Kita tetap harus ke kastil Xabran, untuk melihat keadaan di sana,” kata Vyar.
Mereka menempuh perjalanan selama dua hari hingga akhirnya sampai di kastil Xabran. Kedatangan mereka memang sudah ditunggu-tunggu oleh Mikato dan seluruh aliansinya.
“Mikato, bagaimana strategimu?” tanya Vyar.
“Rencana kita harus segera dimulai, Pangeran. Beberapa minggu ke depan kita akan melakukan kudeta besar-besaran,” jawab Mikato.
Rencana ini memanglah terdengar brutal dan kejam. Akan tetapi, melihat cara kepemimpinan sang ayah membuatnya berpikir bahwa hanya memang seperti inilah jalannya. Politik dalam istana dalam perebutan kekuasaan memang tidak terelakkan. Pada akhirnya dia sendiri ikut merasakan harus menyingkirkan ayahnya sendiri jika ingin mewujudkan impiannya menciptakan kedamaian pada negeri manusia.