Kedatangan mereka disambut oleh Centaur yang bertugas menjaga pintu masuk Jungle Vineus.
“Mau apa kalian datang ke tempat ini?” tanya sang Centaur sambil membidik busurnya ke arah mereka.
“Tu-tunggu sebentar, kami tidak berniat jahat. Bisa kita bicara—“ Peter berusaha mengajak bicara Centaur itu.
Belum sempat selesai, anak panah telah melesat hampir mengenai Peter. Entah disengaja hanya untuk menggertak atau memang Centaur itu niat mengenai Peter tetapi malah meleset.
“Hati-hati dengan senjatamu itu, kau bisa melukainya!” teriak Luna.
“Pergi dari sini sama seperti saat kau datang ke mari. Kediaman kami bukan untuk menampung pengembara seperti kalian,” ucap Centaur itu.
“Kalau begitu, bawa kami ke yang berwenang di tempatmu. Kami berjanji setelah mengutarakan keinginan kami, kami akan pergi dari sini,” kata Peter.
“Kau tidak mengerti kalimat bahwa kalian tidak diterima di sini?!” gertak sang Centaur.
Melihat itu Wolja segera menghentikan Peter dan menuruti apa kata Centaur itu.
“Ta-tapi?!” Peter menatap Wolja dengan enggan.
“Kita hindari pertarungan yang sia-sia, ayo,” ajak Wolja.
Mereka segera menjauh dari lokasi itu, masuk ke sebuah bukit hanya saja masih sekitaran Jungle Vineus. Mereka beristirahat sebentar serta menyusun rencana selanjutnya.
“Apakah perjalanan kita sia-sia?” tanya Peter merasa agak kecewa.
“Kurasa negeri hewan buas sangat jauh berbeda dibandingkan negeri manusia atau penyihir. Mereka tidak ada ramah-ramahnya sama sekali,” ketus Luna.
“Tenanglah, perjalanan kita sejauh ini tidak akan sia-sia,” kata Yura.
“Caranya?” tanya Luna.
“Yang harus kita lakukan adalah bertemu langsung dengan Valkos si Hydra. Dia yang memegang kekuasaan penuh atas negeri ini,” jawab Yura.
“Caranya?” tanya Peter.