Hari itu Peter masih mengoceh untuk mendapat perhatian dari Valkos. Makhluk besar satu ini meski terlihat seperti acuh tak acuh, sebenarnya dia mendengarkan hampir seluruh ocehan kurcaci cerewet yang tengah dikurung itu.
“Aku penasaran, kenapa dari awal Anda tidak melahapku saja?” tanyanya dengan datar.
“Bukankah sudah kubilang, kau adalah umpan bagiku. Hanya itu, jangan merasa istimewa karena masih belum kulahap sampai lebur tubuhmu itu,” balas Valkos.
“Ouh, maaf. Kukira karena aku juga masih termasuk ras hewan buas ‘kan. Itu sebabnya aku berpikir bahwa Anda ragu untuk melahapku,” ucap Peter yang cengengesan padahal lawan bicaranya adalah Hydra dengan ukuran yang sangat besar.
“Siapa kau sebenarnya? Mengapa kata-katamu begitu sangat percaya diri sekali.” Tiba-tiba saja Valkos berubah sikap. Ada pikiran semacam rasa penasaran pada kurcaci yang ditangkapnya itu.
Terlihat Peter tertawa kecil serta menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Kenapa kau malah tertawa? Apakah itu lucu?” tanya Valkos sedikit geram.
“Maaf, maaf. Aku hanya merasa kagum saja, Anda merupakan Penguasa Agung penasaran dengan bocah kurcaci macam diriku. Sejujurnya aku jadi cukup tersanjung,” kata Peter mendadak semua perkataannya ramah.
“Baru kali ini aku bicara dengan makhluk rendahan sepertimu, setidaknya berterima kasihlah karena kau masih diberi kesempatan untuk bisa berbicara denganku,” kata Valkos.
“Baiklah, baiklah. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk bercakap-cakap denganmu, Penguasa Agung.” Peter mencoba bicara santun dan berbicara dengan hormat.
“Sayang sekali kau hanyalah tawanan, padahal kau cukup memiliki adab dan sikap yang baik untuk ukuran kurcaci rendahan,” puji Valkos.
“Pamanku Lindan, mengajari itu semua padaku. Aku sangat menghormatinya,” kata Peter.
“Apa? Lindan? Kau bilang Lindan? Tetua kurcaci di Bukit Lembah Hijau, ‘kan?” tanya Valkos agak terkejut.
“Apakah Anda mengenal Paman Lindan, euh tidak. Maksudku Tuan Lindan, Anda tahu beliau?” tanya Peter penasaran.
“Kudengar dari salah satu mata-mataku saat perang berakhir tiga belas tahun yang lalu, dia adalah satu-satunya kurcaci yang memiliki grimoire,” jawab Valkos.
“Tidak kusangka, berita itu tersebar hingga sampai ke sini. Wajar jika aku mengagumi dan menghormatinya. Beliau sudah kuanggap seperti sosok ayah bagiku,” kata Peter.
“Ha-ha-ha! Kau seperti kurcaci yang diasingkan. Apa kau terlalu lemah sehingga dikucilkan seperti itu?” tanya Valkos bersamaan dengan tawanya yang amat keras.
“Ya, bisa dianggap seperti itu. Lebih tepatnya aku di buang karena disebut pembawa bencana,” ucap Peter dengan tersenyum.
“Jangan bercanda, Nak. Baru dengar aku ada seorang kurcaci lemah menjadi pembawa bencana,” kata Valkos meski sedikit terheran dengan cerita Peter tadi.