Semua bermula dari sini—kembali ke masa 500 tahun yang lalu—ada seekor ular berwarna putih dengan corak garis berwarna jingga. Panjangnya hanya sekitar dua setengah meter. Tengah mencari mangsa untuk makan siang seperti mencari burung, katak, tikus, dan hewan kecil lainnya.
Saat tengah berburu, rupanya ular ini juga menjadi incaran seekor elang. Dengan cepat berhasil menyambar si ular dan kemudian membawa ular yang telah dicengkeramnya menuju timur.
Ketika sudah pasrah karena akan menjadi santapan predatornya, justru elang yang membawanya melepaskan cengkeraman. Kenapa? Rupanya elang ini diserang oleh beberapa pemburu dari ras manusia. Beberapa lesatan anak panah membuat mangsanya terlepas. Ya, ular ini pun akhirnya terjatuh di dataran bukit dekat peradaban manusia.
Ular ini terus merayap dan terus merayap. Hingga akhirnya sampailah dia di sebuah bangunan kecil, tampak seperti tempat sebuah pemujaan. Ada seseorang yang terkaget saat melihat kehadiran hewan berbisa itu, langsung meneriaki dan melempari dengan benda-benda di sekelilingnya.
Ular ini tampak ketakutan, dia tidak mengetahui apa kesalahannya tiba-tiba saja dilempari batu oleh sekawanan manusia yang tengah ketakutan itu. Dirinya tengah diusir karena tidak diharapkan kehadirannya. Dia pun segera kembali merayap ke sebuah bukit kecil dan berdiam di sana.
Ular ini kemudian merayap kembali, entah dia akan ke mana hanya saja dia terus merayap tanpa tujuan. Hingga akhirnya dia menemukan seseorang yang terlihat seperti orang tua, mengenakan jubah putih, tengah bermeditasi.
Sang Ular tampak waspada pada orang tua itu, dia masih diam di tempatnya seraya memfokuskan penglihatannya kepada orang tua itu. Perlahan tingkat kewaspadaannya menurun, entah kenapa dia merasakan bahwa orang tua di dekatnya tidaklah seberbahaya orang-orang yang dia temui sebelumnya.
Entah apa yang dipikirkan si ular, dia mendekati orang tua itu dan beristirahat dengan tenang tanpa ada rasa waspada sedikit pun.
Kemudian orang ini terlihat menyadari bahwa ada ular di dekatnya. Dia hanya tersenyum dan membuat si ular merasa harus kembali waspada.
Si orang tua ini menyadari bahwa ular di dekatnya waspada kembali, maka dia pun melanjutkan meditasinya. Meski sesekali dia mengintip apakah hati si ular ini sudah tenang atau belum. Ketika hati ular itu benar-benar tenteram, dalam sekejap orang itu mengusap-usap kepala si ular.