Luna tidak bisa menahan air matanya lagi, kemudian hendak melesat terbang untuk ikut masuk ke dalam kubangan itu demi menyelamatkan Peter. Namun, usahanya dicegah oleh Elle dan Miriem dengan menyeret Luna untuk tidak gegabah memasuki kubangan air raksa itu.
“Kau jangan gegabah, Luna. Kau bisa mati oleh cairan berbahaya itu!” sergah Elle sambil menahan Luna yang masih berontak.
“Tidak, jika dibiarkan Peter bisa mati!” seru Luna yang terus berpikiran bahwa Peter masih bisa diselamatkan.
“Relakan dia, Luna. Bahkan sebelumnya dia terkena dengan telak serangan petir dari Coronus si Titan. Kita bahkan tidak tahu bagaimana nasibnya setelah itu,” ucap Miriem mencoba menyadarkan kenyataan pahit kepada Luna.
Luna mendarat dengan perlahan, menangisi Peter sambil berlutut karena gagal menyelamatkan sahabatnya untuk tetap hidup. Kesedihan belum mereda, peperangan pun kenyataannya belum benar-benar berakhir. Coronus masih tampak mampu membuka matanya padahal sudah rubuh dan tertancap oleh tombak besar yang diyakini mampu membunuhnya.
“Raksasa itu masih hidup, bagaimana mungkin!” teriak Loas dari kejauhan.
Lindan merasa pasukannya mulai gentar, belum lagi kesedihan mengenai Peter yang harus gugur dalam pertempuran dan dia harus bisa merelakan kepergian sosok kurcaci yang sudah dia anggap seperti anak sendiri yang dirawatnya selama enam tahun.
“Jangan gentar! Hari ini kita kehilangan seorang pahlawan. Tetapi itu tidak akan menghancurkan semangat kita, kita harus bertempur sampai darah penghabisan,” teriak Lindan memacu semangat para kurcaci petarung.
Hal ini juga membuat pasukan lain untuk tidak gentar melawan musuh yang sangat kuat di hadapan mereka. Mereka masih terus mencoba menghujam seluruh lapisan logam dari zirah Coronus yang sangat kuat itu. Terdengar bising sekali saat logam bertemu logam saling beradu untuk membuktikan mana yang lebih kuat.
“Kita harus menumbangkan Coronus untuk meraih kemenangan. Serang dia hingga benar-benar tidak berkutik lagi,” kata Wolja ikut memacu semangat pasukan penyihir.
Yura dan Vyar melakukan hal yang sama untuk membinasakan Coronus, agar kedamaian benar-benar tercipta. Para kurcaci mulai menyemut pada tubuh Coronus, mereka memukul-mukul pakaian logam keras itu dengan sisa-sisa kapak logam yang ada di tangan mereka.
Nihil, jangankan rusak. Tergores pun tidak.