Bangunan berupa kastil-kastil yang menjulang tinggi dan besar memenuhi salah satu area di negeri para penyihir. Beberapa bangunannya tampak masih sedang dalam perbaikan, sepertinya rasa luka pertempuran hebat dengan Shadow Elf satu tahun silam masih terasa. Bahkan bangunan yang runtuh kala itu menjadi saksi bisu atas insiden tersebut.
Luna si Peri Bunga Matahari tengah serius menjalani pelatihan khusus dari sang Master. Siapa lagi kalau bukan Wolja, salah satu The Wizard yang tersohor.
“Cobalah hentikan mantra ini … Arakaversa!” Telunjuk Wolja menunjuk ke arah Luna dan merapal sebuah mantra.
Sejurus kemudian sebuah pusaran angin bersiap memburu Luna untuk menyerangnya. Sihir tingkat menengah, memanfaatkan salah satu unsur elemen menjadi sebuah bentuk serangan.
Luna pun membalas mantra Wolja yang ditujukan kepadanya dan berteriak, “Viritoversa!”
Tampak alis Wolja menaik, tanda dia sedikit terkejut karena peri bergaun warna jingga ini menggunakan mantra tingkat menengah untuk melawan sihirnya tadi. Efek sihir tersebut membuat pusaran angin menjadi tidak stabil perputarannya dan kemudian perlahan hilang.
“Bagus sekali. Menggunakan Viritoversa untuk mengacaukan perputaran anginnya. Kemampuanmu meningkat pesat jauh dari saat pertama aku latih dulu, Luna.” Wolja memuji akan keterampilan Luna dalam menggunakan sihir dengan cekatan.
“Terima kasih, Tuan Wolja.” Luna memberi hormat pada sang Master dengan tersenyum bangga.
“Baiklah, ujian terakhir untukmu. Bisakah kau menghentikan sihir yang satu ini,” kata Wolja seraya mengayunkan jemarinya dan merapal sebuah mantra.
“Bersiaplah …!” Wolja memberi aba-aba. “Jizoku-seigun-dan!”
Bagi Luna, sihir yang ia dengar dari Wolja terasa begitu asing. Dia masih terlihat waspada, menebak sihir seperti apa digunakan oleh sang Master tersebut.
Dalam beberapa detik, muncul sesuatu dari dalam tanah.
“Golem?” gumam Luna saat memperhatikan lebih teliti makhluk apa yang tiba-tiba saja muncul dari permukaan tanah.
Wolja tampak berdiri dengan tenang bahkan sambil melipat kedua tangannya dan tersenyum.
“Bisakah kau menghentikan makhluk yang satu ini? Mari kita uji keterampilanmu itu,” kata Wolja dalam hati.
Semakin lama, bentuk makhluk yang tercipta dari tanah dan bebatuan itu semakin membesar.
“Thungatrio!” Luna pun merapal mantra.
Secepat kilat, petir langsung menyambar makhluk besar itu. Akan tetapi, kekuatan mantranya tidak cukup untuk menghancurkannya.
“Butuh kekuatan mantra yang lebih tinggi untuk menghancurkannya sampai berkeping-keping. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Luna?” Wolja tersenyum tipis.
“Tuan Wolja benar, jika ingin menghancurkannya dengan petir. Aku harus memperbesar kekuatan mantranya.”
“Bisakah dia mengatasi Rockwalld-ku yang satu ini?” batinnya. Penyihir berjubah panjang yang nyaris menyentuh tanah penasaran apa yang akan dilakukan oleh Luna selanjutnya.