Di kedalaman hutan Bornero, beberapa Wood Elf Guardian tengah berpatroli menjaga desa para Wood Elf yang bernama desa Paranoiya.
Saat itu para petinggi ras Wood Elf tengah mengadakan rapat, Yura pun hadir dalam rapat besar tersebut.
“Sekali lagi, para Shadow Elf telah bergerak dengan mencurigakan. Mereka tengah melakukan sesuatu,” ucap Llorino, petinggi Wood Elf yang mengenakan sabuk cokelat dengan gambar motif kelopak daun warna kuning berjumlah tiga.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Terakhir kali mereka bergerak, satu negeri porak-poranda dengan rencana mereka yang licik dan jahat.” Yura bangkit berdiri dari tempat duduk saat rapat, jiwa berkobar dengan tekad akan menghentikan rencana terselubung para Shadow Elf.
“Tenanglah, Yura. Kami mengerti akan kekhawatiranmu.” Wood Elf dengan sabuk cokelat bermotif jamur emas ini mencoba menenangkan Yura, dialah sang tetua desa sekaligus pemimpin tertinggi dari ras Wood Elf bernama Casterpian.
Para Wood Elf terdiri dari beberapa kasta/tingkatan yang bisa terlihat dari sabuk cokelat yang mereka gunakan. Begitu pun dengan gambar motifnya memiliki arti tersendiri tergantung posisi Wood Elf yang mereka emban.
Yura sendiri mengemban tugas sebagai petarung dari rasnya. Sebagai pengguna busur panah yang handal, sabuk cokelatnya bermotif anak panah kecil berwarna merah dan berjumlah tiga.
Kini, setelah usainya perang besar bersama Peter menghadapi Titan, Yura menjadi kapten yang memimpin pasukan Wood Elf khusus. Itulah mengapa motif pada sabuk cokelatnya berjumlah tiga buah, berbeda dengan bawahannya yang hanya berjumlah dua atau satu tergantung seberapa hebat kemampuan mereka.
“Untuk menghadapi Shadow Elf, kita harus memiliki rencana yang matang. Ingat ketika terakhir kali kau gegabah tanpa membuat rencana?” Llorino mengingatkan kembali apa kesalahan Yura dulu.
Yura hanya terpaku saat Llorino mendebatkan soal tersebut. Memang benar, karena kesalahan dia sebelumnya sebuah negeri harus porak-poranda. Sementara itu, dirinya menjadi salah satu alat para Shadow Elf untuk melakukan rencana mereka.
“Mengerti, Tuan Llorino,” kata Yura bernada rendah, mengerti bahwa Llorino hanya mencoba agar dirinya tidak bertindak gegabah seperti sebelumnya.
“Selain itu, Tuan Casterpian,” kata Llorino seraya mengubah pandangannya kepada Casterpian, “kita juga menerima informasi bahwa ini berkaitan dengan lenyapnya Peri Tulip Biru.”
Casterpian tampak menggerakkan sedikit alis, tanda bahwa dirinya serius mendengar informasi tersebut.
“Lalu apa selanjutnya?”
“Beberapa ras lainnya juga diinformasikan menghilang keberadaannya dengan kondisi yang sama. Menurut Anda, apakah itu tidak terlalu mencurigakan?”
Kemudian Casterpian merenung, terlihat dari jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan pelan. Suasana rapat hening seketika sebelum sang tetua ini memberikan bagaimana pendapatnya.
“Menghilangnya beberapa makhluk, ya?” gumamnya, ketukan jemari masih ia lakukan.
Setelah agak lama berpikir, akhirnya Casterpian memutuskan sesuatu.
“Yura, bawalah beberapa anggota khusus dan selidiki daerah perbatasan. Apabila ada yang mencurigakan, segera melapor padaku.”
“Baik, laksanakan.”
Kemudian rapat kembali dilanjutkan, beberapa rencana telah diterapkan kepada masing-masing dari mereka untuk mengemban tugas. Yura sendiri segera mempersiapkan diri untuk melaksanakan tugas dengan membawa beberapa rekannya yang terpercaya.
“Benarkah kita mendapat tugas ini dari sang tetua?” tanya Yorichi.
“Kau kupilih karena memiliki sesuatu yang penting untuk tugas kali ini.” Yura menjawab sambil memberikan busur dan beberapa anak panah kepada Yorichi.
“Kau menyerahkan semua ini kepadaku? Kau tidak akan menggunakannya lagi?” Yorichi terkejut saat mendapatkan semua barang itu.