Moris sudah melakukan pergerakan awal. Yura kini berada dalam genggamannya yang akan ia gunakan untuk sesuatu.
“Kurung dia sementara di penjara bawah tanah.” Moris pun memberikan perintah setelah kelompoknya kembali ke kediaman para Shadow Elf.
Tempat mereka bersemayam dinamakan Darkonia Kingdom. Kerajaan yang dipimpin oleh Erser ini adalah habitat asli para Shadow Elf dan lokasinya bersebelahan dengan hutan Bornero, dibatasi oleh area hutan jamur.
Wood Elf dengan kemampuan busur dan panah api ini pun dijebloskan dalam penjara bawah tanah.
“Hei! Lepaskan. Apa yang akan kalian lakukan kepadaku!” teriak Yura.
“Diam! Kau adalah pion utama untuk rencanaku membalaskan dendam si pangeran kurang ajar itu!” bentak Moris seraya menatap tajam Yura dengan penuh kebencian.
Pangeran yang disebutkan oleh Moris tadi adalah King Vyar. Ini karena dipertempuran sebelumnya dia masih berstatus pangeran, bukan raja yang telah naik tahta.
“Wahai putraku. Apakah kau sudah memiliki rencana untuk menaklukan negeri para manusia itu?” tanya Erser ketika menemui putra kesayangan di ruangannya.
“Tentu saja, Ayahanda. Sesuai dengan besarnya dendamku padanya, kali ini serangan besar-besaran akan terjadi di negeri itu. Ha-ha-ha …!” Moris tampak berapi-api dengan rencananya kali ini.
“Bagus. Semakin kau membenci musuhmu, semakin besar juga peluang kemenangan kita untuk menaklukan sebuah negeri.” Erser terus menanamkan kekuatan kebencian sebagai sumber kekuatan kepada putranya sendiri.
Moris hanya memberikan senyum licik dan mulai merencanakan sesuatu kepada Yura untuk memainkan sebuah peran.
“Ayahanda, persiapkan beberapa pasukan terbaik untukku. Aku akan segera mengeksekusinya segera,” pinta Moris.
“Dengan senang hati, Putraku.”
Dengan membawa beberapa pasukan khusus, Moris memimpin pasukan khusus tersebut menuju negeri manusia. Yura pun ikut dibawa entah apa rencana dan niat terselubungnya kali ini.
Beberapa hari kemudian, di negeri manusia. Vyar tampak sibuk dengan urusan kerajaannya. Urusan politik, mengurusi rakyat, serta mensejahterakan rakyat di negerinya adalah prioritas utama dirinya setelah menjabat sebagai raja.
“Yang Mulia. Ini adalah laporan terkait kasus bangsawan di negeri kita yang bertikai dengan seorang pedagang kecil,” ucap seorang Perdana Menteri kerajaan menyerahkan laporan tertulisnya kepada Vyar.
“Baiklah. Akan segera kutangani permasalahan mengenai proyek pembangunan yang tersendat selama beberapa bulan ini. Baru setelah itu aku akan menyelesaikan perkara dua orang yang bertikai ini,” kata Vyar.
Setelah mendengar jawaban sang raja, orang yang bernama Ayyan si Perdana Menteri pun pamit meninggalkan ruangan. Tidak lama setelah itu muncul seorang wanita berusia enam belas tahun dengan rambutnya yang panjang berwarna cokelat menemui Vyar.