Peter Mint ~The Secret of Black Lotus Spell~

R.J. Agathias
Chapter #1

Prolog

Istana langit bernama Sapthelea begitu megah, dindingnya berkilauan. Memancarkan ratusan warna cahaya yang berkelap-kelip. Di dalamnya berisikan entitas-entitas makhluk berstatus tinggi yaitu tempat tinggalnya para dewa dan dewi.

Mahadewi Rasi (Rasi the Great Goddess) adalah pemimpin tertinggi dari istana langit Sapthelea. Sang Mahadewi duduk di singgasana yang terbuat dari berlian dan memancarkan cahaya emas. Di tubuhnya terlilit tiga buah selendang tipis berwarna hijau, biru, dan perak.

Tepat pada hari itu, pemimpin Sapthelea mengumpulkan para dewa, dewi, dan seluruh penjaga dimensi ruang dan waktu. Karena setiap tiga tahun sekali—menggunakan hitungan waktu istana langit—mereka akan membahas sesuatu yang sangat penting.

Selain para dewa dan dewi yang jumlahnya tidak terhitung, ada juga makhluk lainnya seperti raja penjaga gerbang kegelapan bernama Tursia, ksatria kegelapan utusan dari lembah kematian bernama Lustor. Bahkan, Krono The Keeper si penjaga wilayah Pohon Pengikat Semesta, dan masih banyak lagi yang turut serta dalam acara besar tersebut.

“Baiklah. Kita mulai pertemuan ini,” ucap Mahadewi Rasi kemudian ia mengibaskan salah satu selendangnya yang berwarna hijau.

Dalam sekejap, ruangan berubah menjadi redup, bangku megah bermunculan satu per satu, seolah-olah memperkenankan seluruh makhluk yang hadir untuk duduk. Serentak mereka duduk dan satu per satu dari mereka melaporkan sesuai dengan tugas yang mereka kerjakan selama tiga tahun terakhir.

Lantas, bagaimana cara mereka melaporkan pada Mahadewi mengenai tugas mereka selama tiga tahun penuh? Tentu tidak akan lama, mereka hanya menyerahkan sejumlah gumpalan cahaya dan mengirimkannya langsung pada Mahadewi Rasi.

Seluruh gumpalan cahaya berkumpul dalam hitungan sepersekian detik mengelilingi selendang tipis yang berwarna perak. Membuat selendang itu bagai logam perak berkelap-kelip.

Tidak lama setelah itu, Lustor maju menghadap Mahadewi Rasi dan mengatakan niatnya.

“Yang Mulia, tugasku kali ini adalah segera melenyapkan seluruh penghuni Kaesler. Karena kekacauan yang sudah berlangsung selama tiga tahun terakhir.”

“Ya, benar. Segera jalankan tugasmu itu,” ucap Mahadewi Rasi mengizinkan.

“Tunggu, Yang Mulia.” The Keeper tiba-tiba menyela.

“Bukankah kau penjaga wilayah Pohon Pengikat Semesta, Krono the Keeper. Ada apa?” tanya Mahadewi Rasi penasaran.

“Maaf menyela, Yang Mulia. Namun, ada yang cukup menarik perhatian hamba mengenai kehidupan yang hendak dilenyapkan oleh Anda.” Krono berbicara tanpa menghilangkan rasa hormatnya kepada Mahadewi.

“Diam kau! Sudah waktunya seluruh kehidupan di Kaesler kumusnahkan. Memang sudah ketentuannya dan tidak bisa ditoleransi lagi!” Lustor sedikit murka atas ucapan Krono saat itu.

“Tunggu dulu, Lustor. Biarkan Krono memberikan alasannya.” Mahadewi Rasi langsung melirik dan fokus kepada Krono.

Lustor hanya membuang muka, terlihat kedua tanduk kecil mencuat dari kepalanya. Hal itu menunjukkan sikap tidak sukanya pada Krono.

“Penghuni Kaesler telah menemukan sedikit kedamaian, Yang Mulia.”

Lihat selengkapnya