Luna si Peri Bunga Matahari terduduk kecut di atas sebuah bongkahan batu kecil di sisi padang bunga dandelion yang cukup luas. Ia menggantung dagu oleh kedua tangannya, bibirnya sedikit cemberut.
Si Bocah Hijau yang sedari tadi berlalu lalang ke sana ke mari di antara rimbunnya bunga-bunga, tengah asyik bermain sendirian dan tertawa. Luna tampak jengkel melihat Peter yang masih bisa bercanda kala itu.
Tawaan Peter membuat Luna semakin menyipitkan matanya. “Kau masih bisa bercanda di saat seperti ini?”
“Setidaknya tebarkan aura positif dan tetaplah tersenyum,” ucap Peter sambil melanjutkan tawaannya yang cengengesan.
Luna geleng-geleng kepala. Tidak tahu lagi harus berkata apa, ia bungkam dan melanjutkan rasa putus asanya. Tidak habis pikir, tiga tahun berkelana dan tumbuh bersama, jiwa kekanak-kanakan Peter masih belum hilang.
Luna mengambil napas dalam-dalam lalu bertanya, “Peter? Kau tidak merasa lelah?”
“Tidak!” jawab Peter, masih tetap fokus bermain. Bahkan, dia bermain dengan pedang miliknya dan mengayun-ayunkan benda tersebut seolah-olah tengah bertarung dengan musuh.
Menyesal Luna bertanya, lupa kalau kawannya itu memang bocah aktif seolah-olah memiliki mantra sihir penambah energi yang tidak ada habisnya.
“Jangan diam dan melamun saja … ayo bermain denganku sekarang!” ajak Peter tiba-tiba.
Tangannya yang agak mungil kini tepat berada di depan mata Luna yang tengah melamun dan cemberut. Peri yang ahli dalam kemampuan sihir itu menatap dalam-dalam mata Peter yang berbinar.
“Tidak ah, malas.” Luna enggan menyambut uluran tangan Peter.
Uluran tangan Peter tadi akhirnya disambut oleh Luna setelah beberapa kali menolak mengatakan tidak. Rambut berwarna jingganya melambai-lambai tersapu angin di padang bunga dandelion yang cukup kencang. Ia kepakkan sayap dan terbang perlahan, mengikuti irama Peter yang juga berjalan perlahan sambil menarik lengan sahabat perinya itu.
“Setidaknya, lupakan dulu sejenak kegelisahanmu.” Peter langsung menarik Luna dan kini mereka saling berhadapan sambil diterpa angin sejuk yang meniup dari arah timur.
Merasa luluh, Luna mulai mengembangkan senyumnya sedikit. Peri bergaun jingga itu pun mengikuti alur permainan yang dimainkan Peter. Bergerak riang dan bermain-main di tengah kerumunan bunga-bunga yang tinggi tangkainya hampir mendekati lutut mereka.
Bunga dan dedaunan menari tertiup angin, Luna terbang perlahan seraya menyentuh bunga-bunga Dandelion yang tengah mekar dengan tangannya. Peter mengajaknya kejar-kejaran sambil tertawa lepas.
“Sudah lama aku tidak segembira ini,” sahut Luna yang kini mulai ikut tertawa lepas, merasakan kegembiraan yang ditularkan oleh Peter.