Luna meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. Karena ia kesulitan untuk berbicara, tentu ia tidak bisa merapal mantra sihir untuk melakukan perlawanan.
“Ga-gawat! Bagaimana ini?” Luna mulai terlihat pasrah. Matanya terpejam dan masih berusaha berpikir bagaimana sebaiknya.
“Burning Burst Arrow!”
Tiba-tiba, sebuah tembakan bola api yang cukup besar menabrak tubuh Shadow Elf yang mencekik Luna hingga terpelanting cukup jauh. Lalu, Luna pun terlepas dari cengkeraman musuhnya.
“Apakah aku terlambat?” Sosok itu tersenyum dari arah sebelah kanan Luna yang berkisar berjarak 10 meter.
Sosok itu berdiri setelah melepaskan serangan tadi, mengenakan pakaian yang didominasi oleh warna merah gelap. Dengan gagahnya sosok itu berdiri dan bersiap dengan senjata yang dipegangnya.
Setelah menyadari bahwa serangan itu adalah sebuah anak panah yang dilontarkan serta dikombinasikan dengan kekuatan sihir api, Luna langsung menyadari siapa yang telah menolongnya.
“Yura? Bagaimana bisa?” Luna terkejut dengan kehadiran Yura yang tiba-tiba saja datang menolongnya.
“Kujelaskan nanti, sekarang kita harus menghindari pertempuran lebih dahulu!” Dengan sigap Yura langsung menarik lengan Luna agar segera menjauh dari kawanan Shadow Elf tersebut.
Tanpa membantah, Luna segera mengikuti ke mana Yura membawanya. Mereka memilih memasuki kawasan rawa-rawa yang paling rimbun agar mudah menyembunyikan diri.
“Mengapa kau tiba-tiba bisa ada di sini?” tanya Luna sedikit menurunkan nada suaranya.
Dengan menggunakan suara yang pelan, Yura menjelaskan dengan rinci mengapa dirinya bisa ada di sana dan tepat waktu menyelamatkan Luna.
“Empat hari yang lalu kau ke desaku, bukan?”
Luna pun mengiyakan. Yura mengatakan bahwa setelah mendapat pesan itu, ia langsung bergegas pergi.
Tepat di hari ke empat setelah memulai perjalanan, Yura telah sampai di perbatasan hutan dan rawa-rawa saat pagi harinya. Di sebelah timur area rawa-rawa yang ditelusuri oleh Yura, ia melihat sesuatu yang tampak ganjil.
“Kulihat tempat itu sedikit berantakan. Seperti bekas sebuah pertempuran,” ujar Yura.
Dari sanalah Yura sadar bahwa ada sesuatu yang mencurigakan. Wood Elf yang cerdik ini segera menelusuri jalur yang tampak ganjil dan langsung mengarahkan di mana Luna dan Shadow Elf berada.
“Kau cukup gegabah seperti biasanya, Yura. Harusnya kau menghindari hal itu. Bagaimana jika itu sebuah jebakan?”
“Paling tidak aku mendapatkan kesempatan untuk menyelamatkan Peri Kecil yang butuh pertolongan,” kata Yura sambil memasangkan senyum di wajahnya.
“Huh. Kau ini. Namun, kecerobohanmu kali ini malah menyelamatkan hidupku. Terima kasih,” sahut Luna sambil melempar senyuman.
“Tidak masalah.”
Setelah mereka berdua terbebas dari target para Shadow Elf yang sempat mengejar, mereka langsung bergegas pergi menuju tempat tujuan yaitu Negeri Penyihir.
“Jadi, ada apa dengan Peter?” tanya Yura saat dalam perjalanan.
“Ada sebuah mantra baru yang muncul pada Grimoire miliknya.” Luna pun menjawabnya dengan cepat.
“Lalu?”